JCCNetwork.id- Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,8 mengguncang wilayah Kabupaten Keerom, Papua, pada Sabtu (14/2/2026) dini hari. Peristiwa tersebut terjadi saat sebagian besar warga tengah beristirahat.
Berdasarkan laporan resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tercatat pada pukul 02.08 WIB. Episenter berada di koordinat 4,56 Lintang Selatan dan 144,96 Bujur Timur, sekitar 485 kilometer tenggara Keerom. Gempa terjadi pada kedalaman 169 kilometer.
BMKG menyampaikan bahwa informasi awal yang dirilis masih bersifat sementara. ”Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data,” tulis BMKG di akun resmi platform X.
Belum terdapat laporan resmi mengenai korban jiwa maupun kerusakan bangunan akibat gempa tersebut. Aparat pemerintah daerah bersama instansi terkait masih melakukan pemantauan dan pengumpulan data di lapangan untuk memastikan kondisi terkini.
Secara karakteristik, gempa dengan kedalaman 169 kilometer tergolong gempa menengah hingga dalam. Jenis gempa ini umumnya tidak terlalu dirasakan kuat di permukaan dibandingkan gempa dangkal, meski tetap berpotensi menimbulkan guncangan di wilayah tertentu tergantung pada kondisi geologi setempat.
Indonesia sendiri berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), yang merupakan jalur pertemuan sejumlah lempeng tektonik aktif. Kondisi tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat aktivitas seismik tertinggi di dunia.
Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gempa bumi merupakan getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi akibat tumbukan antar lempeng, aktivitas patahan aktif, kegiatan vulkanik, maupun runtuhan batuan. Sementara itu, BMKG mendefinisikan gempa sebagai peristiwa pelepasan energi secara tiba-tiba di dalam bumi yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak bumi.
Di tingkat global, World Health Organization (WHO) mencatat gempa bumi sebagai salah satu bencana alam paling mematikan. Dalam kurun 1998–2017, gempa dilaporkan menyebabkan sekitar 750 ribu kematian dan berdampak pada lebih dari 125 juta orang di seluruh dunia.
Meski tidak dapat dicegah, risiko dampak gempa dapat diminimalkan melalui kesiapsiagaan dan edukasi kebencanaan. Pemerintah dan lembaga terkait terus mengimbau masyarakat untuk memahami prosedur evakuasi, mengenali jalur penyelamatan, serta mengikuti arahan resmi ketika terjadi gempa.
BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpancing informasi yang belum terverifikasi. Pembaruan data akan disampaikan secara berkala sesuai hasil analisis lanjutan.



