JCCNetwork.id-Kapten Alaska Airlines, Brandon Fisher, mengajukan gugatan terhadap Boeing di Pengadilan Oregon. Gugatan tersebut menuding produsen pesawat itu menyampaikan pernyataan menyesatkan yang merugikan reputasinya, menyusul insiden terlepasnya panel penutup pintu pesawat Boeing 737 Max 9 pada Januari 2024.
Dalam dokumen hukum, tim kuasa hukum Fisher menyatakan Boeing mencoba mengalihkan tanggung jawab atas insiden penerbangan Alaska Airlines nomor 1282, sehingga memicu gugatan dari sejumlah penumpang kepada Fisher dan menimbulkan tekanan psikologis pada pilot berpengalaman tersebut.
Insiden terjadi beberapa menit setelah lepas landas dari Portland, Oregon. Panel berukuran sekitar 60 x 120 sentimeter terlepas, menyebabkan penurunan tekanan kabin secara tiba-tiba.
Tujuh penumpang dan satu pramugari mengalami luka ringan, namun pesawat mendarat dengan selamat setelah Fisher dan kopilot melakukan penurunan darurat dan koordinasi dengan pengatur lalu lintas udara.
Investigasi National Transportation Safety Board (NTSB) menemukan empat baut pengaman panel pintu darurat yang tidak digunakan telah dilepas dan tidak kembali terpasang saat proses perakitan.
Baut tersebut berada di balik panel interior sehingga tidak dapat diperiksa secara visual dalam pemeriksaan pra-terbang. NTSB juga mencatat panel bergerak perlahan selama 154 penerbangan sebelum akhirnya terlepas.
Temuan itu menyoroti praktik perakitan Boeing dan pemasok utama Spirit Aerosystems. Sejumlah pekerja mengaku merasa ditekan untuk mempercepat pekerjaan dan diminta melakukan tugas di luar kualifikasi.
Sebelumnya Fisher menerima apresiasi dari NTSB, Federal Aviation Administration (FAA), serta eksekutif Boeing karena dinilai berperan memastikan keselamatan 177 orang di pesawat.
Namun kuasa hukumnya menilai pernyataan-pernyataan Boeing dalam berbagai proses hukum justru menyudutkan sang pilot.
Empat pramugari juga telah menggugat Boeing terkait insiden yang sama. FAA kemudian menjatuhkan denda sekitar US$ 3,1 juta kepada Boeing atas pelanggaran keselamatan, meski pada Oktober lembaga tersebut mengizinkan peningkatan produksi 737 Max setelah menilai sejumlah perbaikan dilakukan.
Boeing belum memberikan tanggapan atas gugatan Fisher. Pimpinan perusahaan saat ini menyatakan keselamatan menjadi prioritas utama.
Alaska Airlines memilih tidak berkomentar mengenai proses hukum, namun menegaskan tetap memberikan penghargaan kepada awak pesawat atas respons cepat mereka selama insiden.























