JCCNetwork.id- Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menegaskan komitmen mereka terhadap sentralitas ASEAN dan mendukung penuh ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP).
Dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri Malaysia dan diakses di Kuala Lumpur pada hari Selasa, keduanya menyatakan antisipasi mereka terhadap KTT Khusus ASEAN-Australia untuk merayakan 50 tahun Hubungan Dialog.
Mereka juga berkomitmen untuk bekerja sama erat guna mencapai hasil yang signifikan dari pertemuan tersebut, terutama dalam konteks kepemimpinan Malaysia di ASEAN pada tahun 2025.
Selain itu, Anwar dan Albanese kembali menegaskan dukungan mereka terhadap keanggotaan penuh ASEAN bagi Timor Leste.
Mereka berkomitmen untuk terus mendukung pembangunan kapasitas Timor Leste guna memfasilitasi proses keanggotaan
penuhnya di ASEAN.
Pada kesempatan yang sama, keduanya menyampaikan keprihatinan mendalam mereka terhadap situasi di Myanmar pasca kudeta militer tahun 2021.
Mereka mengutuk keras tindakan kekerasan yang terus berlangsung dan mendesak rezim militer untuk mengambil langkah konkret dalam menghentikan kekerasan tersebut, serta terlibat dalam dialog nasional yang inklusif.
Anwar dan Albanese juga memberikan komitmen kuat mereka terhadap upaya-upaya yang dipimpin ASEAN dalam menangani krisis politik di Myanmar, termasuk implementasi sepenuhnya dari Konsensus Lima Poin.
Pernyataan bersama ini diucapkan setelah Pertemuan Tahunan Pemimpin Australia-Malaysia ke-2 di Melbourne pada hari Senin, yang juga membahas isu-isu kawasan regional Indo-Pasifik.
Keduanya menegaskan kembali pentingnya mempromosikan kawasan Indo-Pasifik yang terbuka, stabil, inklusif, dan transparan, serta menghormati kedaulatan dan kepatuhan terhadap aturan dan norma yang disepakati.
Selain itu, Anwar dan Albanese menyoroti pentingnya dialog dan langkah-langkah praktis untuk mengurangi risiko kesalahpahaman dan mencegah konflik di kawasan regional, termasuk perhatian serius terhadap perkembangan di Laut China Selatan.
Mereka menekankan pentingnya
kebebasan navigasi dan penerbangan sesuai dengan hukum internasional, serta pentingnya semua negara mematuhi hukum internasional, termasuk UNCLOS tahun 1982.
Keduanya juga mengakui pentingnya perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan, serta menekankan pentingnya komunikasi terbuka, kepastian, dan transparansi guna mencegah konflik.
Keseluruhan, Anwar dan Albanese menegaskan pentingnya membangun kepercayaan di antara semua negara,
serta mempromosikan perdamaian dan keamanan di kawasan regional demi kesejahteraan.



