JCCNetwork.id- Presiden Donald Trump menyatakan ketidakpuasan terhadap proposal damai terbaru yang diajukan Iran dalam rangkaian perundingan bilateral yang kembali bergulir dalam beberapa pekan terakhir. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah upaya kedua negara mencari jalan keluar atas ketegangan yang telah berlangsung lama, terutama terkait isu nuklir dan stabilitas kawasan Timur Tengah.
Dalam keterangannya kepada wartawan pada Sabtu (2/5/2026), Trump menegaskan bahwa meskipun ada indikasi keinginan dari pihak Iran untuk mencapai kesepakatan, isi proposal yang diajukan dinilai belum memenuhi ekspektasi Washington. Ia menyebut belum ada titik temu yang dapat dianggap sebagai kemajuan signifikan dalam proses negosiasi tersebut.
“Mereka ingin membuat kesepakatan, tapi saya tidak puas dengan itu, jadi kita lihat saja apa yang terjadi,” kata Trump, kepada wartawan, dikutip Sabtu (2/5/2026).
Perundingan antara kedua negara kini tidak lagi dilakukan melalui pertemuan langsung, melainkan beralih ke komunikasi jarak jauh melalui sambungan telepon. Sebelumnya, delegasi kedua pihak sempat bertatap muka dalam pertemuan yang berlangsung di Islamabad, Pakistan pada 11–12 April 2026. Namun, perubahan metode komunikasi dilakukan demi efisiensi waktu dan mobilitas.
Trump menjelaskan bahwa kendala jarak menjadi salah satu pertimbangan utama dalam perubahan mekanisme perundingan. Ia menambahkan bahwa meskipun komunikasi tetap berjalan, proses negosiasi masih menghadapi berbagai tantangan yang belum terselesaikan.
“Mereka terus bekerja sama dengan kami, tetapi perjalanan ke Pakistan sangat panjang dan kami melakukan semua hal dalam negosiasi saat ini melalui telepon,” ujarnya.
Sejumlah isu strategis disebut masih menjadi penghambat utama tercapainya kesepakatan. Di antaranya adalah program nuklir Iran yang selama ini menjadi sorotan internasional, serta keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang memiliki peran vital dalam distribusi energi global.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran telah berlangsung selama bertahun-tahun, dengan berbagai upaya diplomasi yang kerap mengalami pasang surut. Pernyataan terbaru dari Trump ini menegaskan bahwa proses menuju kesepakatan damai masih memerlukan waktu dan kompromi lebih lanjut dari kedua belah pihak.



