Inflasi dan Geopolitik Picu Pelemahan Emas Global

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Harga emas global kembali mengalami tekanan signifikan sepanjang pekan ini di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi dan kebijakan suku bunga tinggi yang berpotensi berlanjut di sejumlah negara maju.

Berdasarkan laporan pasar yang dirilis Rabu (6/5/2026), harga emas dengan acuan kontrak XAU (emas spot global) tercatat turun hingga menyentuh level USD4.530. Angka tersebut menjadi titik terendah sejak akhir Maret lalu, sekaligus menandai tren penurunan yang cukup tajam setelah sebelumnya emas sempat mencapai level tertinggi tahunan.

- Advertisement -

Secara akumulatif, harga logam mulia ini telah terkoreksi lebih dari 18 persen dari puncaknya tahun ini. Sejumlah indikator teknikal menunjukkan tekanan jual masih cukup kuat, sehingga membuka peluang pelemahan lanjutan dalam waktu dekat.

Tekanan terhadap emas tidak hanya dipicu faktor ekonomi, tetapi juga dinamika geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah. Ketegangan meningkat setelah pemerintah Iran dilaporkan menyerang kapal strategis milik Amerika Serikat menyusul pengumuman kebijakan pengamanan jalur pelayaran oleh Presiden Donald Trump melalui program yang disebut Project Freedom.

Program tersebut dirancang untuk mengawal kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia. Sebagai respons, Iran juga melancarkan serangan pesawat nirawak ke wilayah Uni Emirat Arab, yang semakin memperburuk situasi keamanan kawasan.

- Advertisement -

Ketegangan tersebut berdampak langsung pada pasar energi global. Harga minyak mentah acuan Brent Crude Oil melonjak hingga mencapai USD114 per barel. Kenaikan harga energi ini memicu kekhawatiran baru terhadap lonjakan inflasi, terutama di negara-negara dengan ketergantungan tinggi pada impor energi.

Para analis menilai risiko konflik terbuka antara kedua pihak dapat memicu kenaikan harga energi lebih lanjut dalam beberapa hari hingga pekan ke depan. Dampaknya, tekanan inflasi diperkirakan akan semakin kuat dan meluas ke berbagai sektor ekonomi.

Data terbaru menunjukkan kenaikan indeks harga konsumen di Amerika Serikat dari 2,3 persen pada Februari menjadi 3,3 persen pada Maret. Tren tersebut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama dari perkiraan sebelumnya.

Federal Reserve bersama sejumlah bank sentral global diperkirakan belum akan melonggarkan suku bunga dalam waktu dekat. Bahkan, Bank Sentral Eropa dan Bank of England telah memberikan sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga pada Juni mendatang.

Di Amerika Serikat, arah kebijakan moneter juga dipengaruhi oleh kepemimpinan baru di bank sentral. Di bawah figur Kevin Warsh, The Fed diperkirakan akan mengambil langkah lebih agresif dalam merespons inflasi yang kembali meningkat.

Kondisi kombinasi antara tekanan inflasi tinggi, kebijakan suku bunga ketat, serta ketidakpastian geopolitik membuat harga emas—yang selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai—justru mengalami pelemahan. Investor cenderung beralih ke instrumen lain yang memberikan imbal hasil lebih tinggi di tengah tren kenaikan suku bunga global.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Indonesia–Jepang Teken Kerja Sama Pertahanan

JCCNetwork.id- Pemerintah Indonesia dan Jepang bersiap memperkuat hubungan strategis di sektor pertahanan melalui penandatanganan kesepakatan kerja sama bilateral. Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin bersama...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER