Hal ini, bahkan menimbulkan rasa penasaran dalam benak rakyat Indonesia. Rakyat ingin merasakan bagaimana karya yang akan dipertunjukan dari hasil kolaborasi kedua partai tersebut.
Tentu hal itu akan menjadi something curious. Tapi, hal itu, dijawab sedikit dengan kolaborasi kepentingan politik PKS dan PDIP di Kabupaten Buru Selatan (Bursel). Kiranya, saya sedikit mendapat tontonan kolaborasi dari kedua partai tersebut.
Sebagaimana disebutkan di awal bahwa, sikap politik PKS di pusat terlihat arah geraknya. Namun, di daerah Bursel PKS terlihat kehilangan mawafiq siyasi-nya. Entah ini dipengaruhi status PKS sebagai partai simpatisan (pendukung) atau dampak dari tidak adanya delegasi PKS di Parlemen Bursel.
Hal demikian, saya kira tidak menjadi alasan untuk menghindari tidak adanya suara dan perjuangan PKS dalam mengawal proses jalannya pemerintahan daerah dan memperjuangkan aspirasi rakyat. Karena PKS berbeda dengan partai lain dan LSM-LSM yang dibentuk untuk kepentingan taktis dan praktis.
Pilkada Bursel, PKS Hadir dengan ‘Kepentingan Umat’
Saat ditanyai tentang mangapa PKS lebih memilih mendukung calon yang dianggap cenderung membangun fondasi kekuasan politik dinasti dan saling bekap dari dugaan korupsi. Mereka menjawab bahwa perjuangan tersebut adalah untuk rakyat.
Sebelumnya, kolaborasi politik ini sungguh membuat masyarakat bingung dengan sikap politik PKS kali ini, pasalnya selama dua kali pilkada yang melahirkan Tagop Sudarsono Soulissa (matan Bupati Bursel) yang berkuasa selama dua periode, PKS selalu memilih berlawanan arah politik.
Namun, kali ini, usai kekuasan Tagop Sudarsono Soulissa sebagai bupati, PKS memilih melebur dan berkolaborasi dengan istri Tagop Sudarsono Soulissa, Safitri Malik dalam perhelatan politik pilkada di tahun 2020 lalu.
Pilkada 2020 menghasilkan Safitri Malik terpilih menjadi bupati kabupaten yang bertajub Lolik Lalen Fedak Fena tersebut sebagai perpanjangan kekuasan dari suami, Tagop Sudarsono Soulissa.



