Oleh: Fernando EMaS, Direktur Rumah Politik Indonesia
JCCNetwork.id- Debat perdana calon presiden telah usai dilaksanakan menghasilkan banyak penilaian terhadap masing-masing kandidat. Sesuatu hal yang wajar kalau debat capres menghasilkan berbagai penilai terhadap para kandidat karena kesempatan untuk menambah tingkat kepercayaan dan tingkat keterpilihannya pada pilpres 2024 yang akan datang.
Namun ada sesuatu yang perlu saya komentari dari pada debat capres tadi malam namun bukan pada penampilan para capres tetapi salah satu calon wakil presiden, yakni Gibran Rakabuming Raka.
Pada saat Prabowo menanggapi pertanyaan Anies Baswedan terkait dengan putusan MKMK yang disambut riuh oleh pendukung Prabowo. Pada bagian belakang para capres yang sedang berdebat, tampak Gibran berdiri menyemangati para pendukungnya untuk semakin riuh.
Apakah kehadiran Gibran pada acara debat tersebut hanya untuk memandu sorak para mendukung mereka?
Sayang kalau terlalu banyak yang dikorbankan bamgsa dan negara ini termasuk Paman Usman yang sudah mengorbankan integritas dan jabatan hanya untuk seorang Gibran yang sangat minim kemampuan untuk menjadi calon wakil presiden.
Termasuk mengorbankan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Mahkamah Konstitusi termasuk membuat keraguan masyarakat terhadap netralitas negara, aparatur negara, TNI dan Polri karena Joko Widodo yang merupakan ayah Gibran sedang menjadi penguasa saat ini.
Terlalu banyak dan mahal dikorbankan untuk memberikan karpet merah bagi Gibran yang ternyata menjadi pemandu sorak pada saat debat capres sedangkan sejak awal sudah diberitahu untuk menjaga ketertiban selama debat.
Sungguh sangat disayangkan apa yang sudah dikorbankan oleh banyak orang untuk negara ini sejak dari masih memperjuangkan, memerdekakan dan mengisi kemerdekaan dengan hadirnya sebuah masa yang menghadirkan seorang calon pemimpin hanya sebuah nafsu berkuasa namun belum belum cukup memadai kemampuannya untuk diberikan kepercayaan.
Terlalu banyak yang dikorbankan untuk seorang Gibran yang belum matang secara pemikiran, pengalaman dan emosional untuk bisa ikut kontestasi 2024.



