Dalam kesempatan yang sama, Mardiansyah selaku Ketua Umum Rampai Nusantara mengingatkan bahwa kunci kebahagiaan Pemilu 2024 sejatinya ada di elite politiknya. Apakah mereka akan selalu menghalalkan segala cara untuk bisa meraih kemenangan atau lebih mengedepankan penerapan nilai untuk ajang demokrasi lima tahunan ini.
“Kita sudah mengalami berbagai momentum demokrasi, bukan soal Pilpres tapi juga Pilkada. Yang mengkhawatirkan adalah semua tokoh elite politik dalam berkuasa adalah menghalalkan segala cara. Padahal nilai-nilai jauh lebih penting ketimbang kekuasaan,” tutur Mardiansyah.
Lebih lanjut, aktivis 98 ini juga mengingatkan agar tim sukses yang sudah dibentuk oleh kontestan Pemilu 2024 agar bisa lebih kreatif dalam mengampanyekan jagoan politiknya, apakah itu Capres-Cawapres, Caleg maupun Calon Kepala Daerah.
“Miskin ide, miskin gagasan yang akhirnya kita merasa perlu memproduksi hoaks dan politisasi yang jelas nrisikonya tinggi sekali, karena dampaknya ke nilai-nilai itu,” tukasnya.
Dalam kesempatan terkahir, Ketua Umum Gerakan Pemerhati Kepolisian (GPK) Abdullah Kelrey memberikan pemahaman bahwa mengapa hoaks dan perpecahan muncul di setiap agenda politik. Sebab semua itu muncul karena Indonesia masih berlaku yang namanya politik irisan. Seseorang akan bersikap dan berpihak kepada orang yang memiliki sejarah dan centelan kepentingan.
“Politik kita sejak lahir adalah politik irisan, ya tergantung irisan kita siapa. Kalau bicara soal hoaks ini soal irisan ke atas, bagaimana fanatisme tadi bisa muncul,” kata Abdullah.
Oleh sebab itu, ia pun menekankan agar semua elite dan pelaku politik lebih mengedepankan politik kasih sayang dan cinta, sehingga ruang gerak politik yang muncul bisa memberikan dampak yang positif.
“Kalau rasa cinta dan kasih sayang hilang dari darah manusia kita, maka hoaks dan kawan-kawannya akan terus muncul di lingkungan masyarakat kita, sosial media kita hingga di atas kamar tidur,” pungkasnya.











