JCCNetwork.id – Emrus Sihombing, seorang Komunikolog Indonesia, memberikan peringatan penting kepada masyarakat agar tetap berhati-hati terhadap pandangan Rocky Gerung.
Penting untuk mencermati pernyataan Rocky Gerung yang seringkali tidak mencerminkan prinsip kesetaraan yang menjadi landasan demokrasi komunikasi. Bahkan tanpa disadarinya, ia telah melanggar prinsip-prinsip demokrasi komunikasi itu sendiri.
“Disadari atau tidak olehnya, Rocky Gerung telah menapikkan prinsip demokrasi komunikasi itu sendiri,” kata Emrus, dalam keterangannya, Jumat (18/8/2023).
Menurut Emrus, untuk mengalihkan perhatian dari pilihan kata dan makna yang tidak mendukung kesetaraan, Rocky Gerung cenderung menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif secara bergantian. Tujuannya jelas untuk membenarkan pandangannya demi keuntungannya sendiri, kelompoknya, dan agenda tersembunyi lainnya.
“Tentu, tujuannya membentuk opini publik yang menguntungkan dirinya, kelompoknya dan kepentingan di belakangnya,” ungkap Emrus.
Rocky Gerung mengambil pendekatan mekanistis atau prosessual sesuai dengan kepentingannya. Pilihan ini ia manfaatkan dengan maksimal sesuai konteks. Sayangnya, pendekatan ini sering digunakan secara manipulatif untuk membenarkan pandangannya, bahkan ketika tidak sesuai dengan akal sehat.
Sebagai akibatnya, orang yang belum familiar dengan kedua pendekatan ini bisa dengan mudah terpengaruh oleh narasi dan argumentasi Rocky Gerung. Sebagai contoh, pernyataannya mengenai kedaulatan rakyat versus kekuasaan presiden dapat membingungkan khalayak yang tidak paham kedua pendekatan tersebut.
“Karena itu, saya mengajak masyarakat agar hati-hati terhadap pemikiran Rocky Gerung,” tutup Emrus.



