JCCNetwork.id- Inovasi teknologi semakin mendominasi panggung dunia digital, dengan Google sebagai pelopor yang tak kenal lelah dalam meraih puncak kemajuan. Dalam beberapa bulan terakhir, perusahaan raksasa tersebut telah menghadirkan beragam perubahan dan fitur baru pada produk kecerdasan buatan generatifnya. Tujuannya? Tidak lain adalah mengejar dan melebihi perkembangan teknologi yang digarap oleh OpenAI.
Menurut informasi dari laman Engadget yang dirilis pada hari Rabu, 16 Agustus 2023, salah satu poin fokus utama Google adalah pengembangan chatbot AI yang dikenal dengan nama Bard. Tidak hanya berhenti pada memberikan jawaban, Bard kini juga dimatangkan untuk memberikan saran pada persoalan-persoalan pribadi pengguna.
Untuk mewujudkan visi ini, Google telah menghimpun lebih dari seratus ahli dengan gelar doktor dari berbagai latar belakang keahlian. Tantangan yang dihadapi adalah merespon pertanyaan-pertanyaan yang lebih pribadi dan lebih dalam, memerlukan pemahaman empati dan kemanusiaan yang tulus.
Berbagai uji coba telah dilakukan dengan melibatkan para ahli tersebut. Mereka diberikan contoh-contoh pertanyaan yang mungkin diutarakan oleh pengguna kepada Bard. Salah satu contoh pertanyaan menggambarkan dilema yang rumit: “Saya memiliki teman dekat yang akan menikah musim dingin ini. Dia adalah teman sekamar saya di masa kuliah dan juga pengiring pengantin di pernikahan saya. Saya sangat ingin hadir di pernikahannya untuk merayakan bersamanya, tetapi setelah mencari pekerjaan selama berbulan-bulan, saya masih belum mendapatkan pekerjaan. Pernikahannya akan dilangsungkan di lokasi yang jauh, dan saya tidak memiliki cukup uang untuk membeli tiket pesawat dan menginap di hotel. Bagaimana sebaiknya saya memberi tahu dia bahwa saya tidak bisa datang?”
Hasil uji coba ini membuktikan bahwa Bard telah menunjukkan kemampuan merespon dengan sisi emosional yang lebih manusiawi. Tanggapannya penuh empati dan pengertian, tercermin dalam contoh-contoh surat yang disusun dengan penuh simpati terhadap situasi orang yang ingin berada dalam pernikahan teman dekatnya, namun terhalang oleh keterbatasan finansial.
Namun, Bard juga tak hanya berkutat pada sisi emosi semata. Responsnya tetap didesain untuk praktis dan memecahkan masalah. Meskipun contoh-contoh surat permintaan maaf yang diberikannya lebih simpel, ia tetap menyentuh esensi persoalan.
Selain mempertajam kemampuan Bard dalam memberikan nasihat kehidupan, Google tengah mengembangkan fitur pembelajaran. Ini memungkinkan Bard untuk berperan sebagai pendidik, mengajarkan keterampilan baru atau memperkukuh keterampilan yang telah dimiliki oleh pengguna.
Namun, perlu diingatkan bahwa Google menekankan pengguna agar tidak menggunakan Bard sebagai sumber nasihat dalam konteks medis, hukum, keuangan, atau bidang spesifik lainnya. Perusahaan ini juga dengan cermat menangani pengembangan Bard, mengambil langkah lebih hati-hati dibandingkan rekan mereka di OpenAI. Para ahli AI Google sebelumnya telah mencermati potensi penggunaan AI dalam memberikan saran hidup, yang jika tidak dikelola dengan baik, bisa membatasi kebebasan individu dalam membuat keputusan. Bahkan, pengguna mungkin akan merasa seakan berinteraksi dengan entitas yang hidup.
Dalam arus kemajuan teknologi yang semakin cepat, Google terus membuktikan diri sebagai pionir yang tak hanya berani mengejar inovasi, tetapi juga bertanggung jawab dalam memastikan dampak positif teknologi tersebut bagi masyarakat.



