Biar Android Aman, Hindari Jeratan APK dengan Tips Langkah Anti Penipuan!

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Saat ini, ada peningkatan jumlah kasus penipuan data melalui APK (Android Package Kit) di kalangan masyarakat. Penipuan ini melibatkan berbagai jenis file APK yang sering kali disamarkan sebagai format kurir paket atau undangan pernikahan yang dibagikan melalui aplikasi perpesanan.

Masyarakat dihimbau untuk tidak sembarangan menginstal aplikasi di ponsel guna menghindari penipuan dengan modus APK.

- Advertisement -

Cara terbaik untuk menghindari penipuan semacam itu adalah dengan tidak menginstal aplikasi sembarangan di ponsel pintar. Sebaiknya, instal aplikasi hanya melalui Google Play Store untuk pengguna Android atau App Store untuk pengguna iOS.

Demikian kata Spesialis Pemeriksa Fakta dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Aribowo Sasmito.

“Jangan suka membuka APK atau file lain dan menginstal aplikasi di luar dari Google Play Store,” ujar Aribowo dalam Obral Obrol Literasi Digital di Kementerian Komunikasi dan Informatika secara daring, dikutip Kamis (22/6/2023).

- Advertisement -

Menurut dia, Google Play Store selalu berupaya menjaga keamanan dengan fitur Play Protect yang dapat melindungi pengguna dari aplikasi jahat. Selain itu, penting untuk memasang aplikasi antivirus sebagai langkah perlindungan tambahan.

Aribowo mengingatkan pentingnya menyadari bahaya yang timbul ketika perangkat terkena virus. Virus atau malware dapat membuka “pintu belakang” atau backdoor untuk memasukkan aplikasi jahat lain dan mencari informasi sensitif seperti catatan bank atau informasi pribadi yang dapat disalahgunakan.

Google Play Store selalu berusaha menjaga keamanan dengan menggunakan fitur Play Protect yang berfungsi melindungi pengguna dari aplikasi berbahaya. Selain itu, sangat penting untuk menginstal aplikasi antivirus sebagai langkah perlindungan tambahan.

Aribowo mengingatkan tentang pentingnya menyadari bahaya yang muncul ketika perangkat terinfeksi virus. Virus atau malware dapat membuka “pintu belakang” atau backdoor untuk mengunduh aplikasi berbahaya lainnya dan mencari informasi sensitif seperti data keuangan atau informasi pribadi yang dapat disalahgunakan.

“Cara menggantinya jangan menggunakan handphone yang sudah terlanjur terkena virus atau malware karena takutnya di situ ada keylogger-nya. Jadi apapun yang kita ketik akan disimpan dan dikirim ke si pemilik aplikasi jahat tadi. Jadi harus menggunakan perangkat lainnya,” kata dia.

Lebih lanjut Aribowo menekankan bahwa penting bagi masyarakat untuk memahami dasar-dasar keamanan digital, termasuk mengenali berbagai modus operandi serangan seperti file dengan ekstensi APK yang dapat membawa ancaman.

Dia juga mengingatkan tentang pentingnya menyadari rekayasa sosial (social engineering), di mana penyerang mencoba mengumpulkan informasi sensitif dari korban melalui percakapan yang tampak biasa-biasa saja.

Terakhir, Aribowo menyarankan agar masyarakat menggunakan autentifikasi dua langkah guna meminimalisasi pembobolan data.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Pemerintah Pastikan Layanan Haji 2026 Maksimal

JCCNetwork.id- Pemerintah memastikan kesiapan layanan akomodasi dan fasilitas pendukung bagi jemaah haji Indonesia tahun 2026 telah mencapai tahap final. Hal tersebut disampaikan Menteri Haji...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER