JCCNetwork.id- Tokoh nasional DR Rizal Ramli menyebut perekonomian Indonesia saat ini semakin tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lain. Menurut ekonom senior tersebut, pada akhir tahun 1960-an, negara-negara di Asia Selatan, termasuk China, Jepang, Korea, Malaysia, Thailand, India, dan Singapura, secara umum memiliki tingkat kemiskinan yang sama, bahkan lebih miskin daripada Indonesia.
Pada waktu itu, pendapatan per kapita di China hanya sebesar $50 per orang, atau setengah dari Indonesia. Namun, dalam rentang waktu 30-40 tahun, negara-negara tersebut berhasil meningkatkan perekonomiannya dan menjadi negara maju.
Bahkan Malaysia sekarang memiliki pendapatan per kapita 3,5 kali lipat lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Hal ini menjelaskan mengapa banyak tenaga kerja Indonesia, bermigrasi ke Malaysia untuk bekerja di sektor perkebunan.
“Inilah yang menjelaskan para tenaga kerja Indonesia, yang kebanyakan kaum Nahdliyin, membanjiri Malaysia untuk bekerja di perkebunan-perkebunan,” ujarnya saat bersilaturahmi dengan pimpinan Pondok Pesantren Al-Ishlah, Bondowoso, Jawa Timur, KH. Thoha Yusuf Zakariya, pada Sabtu (3/6/2023) lalu.
Menurut Rizal Ramli, model pembangunan Indonesia yang terlalu mengandalkan utang dan ketergantungan pada IMF, mirip dengan negara-negara di Amerika Latin dan Afrika, sulit untuk mencapai kemajuan. Ia juga menilai penanganan masalah utang di Indonesia tidaklah kreatif.
Rizal Ramli memberikan contoh kebijakan kreatif yang pernah ia lakukan saat menjabat sebagai Menteri Keuangan pada era Presiden Gus Dur. Ia berhasil melakukan negosiasi dan restrukturisasi utang dengan menggunakan skema seperti debt swap, debt to nature swap, dan skema lainnya.
Sementara itu, KH. Thoha Yusuf Zakariya menyampaikan kekhawatirannya bahwa kemiskinan dan penderitaan ekonomi dapat membawa dampak negatif terhadap keimanan umat. Ia menyebutkan bahwa iman dan taqwa kepada Allah SWT sangat penting, karena keimanan dan ketakwaan akan memberikan jalan keluar dan berkah. Tanpa iman dan taqwa, pintu-pintu keberkahan akan tertutup.
“Kita sekarang ini sedang mencari obat untuk hati yang sedang gundah gulana. Karena ekonomi, politik, keamanan, sosial, di Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Kenapa kok seperti ini masalah ekonomi kita,” ujar KH Thoha Yusuf Zakariya.



