JCCNetwork.id – Menteri BUMN Erick Thohir menyinggung soal impor kereta rel listrik (KRL) saat Rapat Kerja Komisi VI DPR RI di Jakarta, Senin (5/6/2023). Namun sekalipun ada impor KRL hal itu hanya untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek sembari menunggu produksi kereta dari PT Industri Kereta Api (INKA) selesai.
“Kalaupun ada impor, seminimal mungkin yang kita minta. Karena itu hanya menutupi yang namanya gap dari kebutuhan 6 bulan atau 7 bulan ke depan,” kata Erick.
Erick mengklaim, sesuai hasil rapat dengan INKA dan PT KAI, terdapat pertumbuhan penumpang yang melebihi prediksi pascapandemi COVID-19 berakhir.
Sementara pembangunan infrastruktur, masih selalu menjadi permasalahan baru ketika ekonomi dunia telah pulih dari efek pandemi COVID-19. Oleh karena itu, sembari menunggu INKA menyelesaikan pembuatan gerbong kereta api, impor kereta bekas menjadi salah satu solusi cepat untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek pengguna kereta.
“Tentu Alhamdulillah buat Indonesia ini hal yang positif. Karena itu INKA sendiri setelah saya periksa, memang untuk mengikuti suplai kebutuhan kereta api kemarin memang salah satunya yaitu melakukan impor tetapi harus diiringi produksinya sendiri ini,” jelasnya.
Guna menambah kemampuan produksi INKA, Menteri Erick bersama Menteri Perhubungan, Menko Marves dan Menteri Perindustrian, pun sepakat untuk menyuntikkan dana sebesar Rp3 triliun kepada INKA melalui dana Penyertaan Modal Negara (PMN) tunai tahun anggaran 2024.
Dana tersebut akan digunakan sebagai tambahan modal bagi INKA guna mengantisipasi pertumbuhan kebutuhan kereta api untuk gerbong-gerbong barunya.
“Penyehatan INKA Ini membutuhkan tambahan Rp3 triliun, sehingga terjadi equilibrium antara produksi gerbong dan juga peningkatan jumlah kebutuhan kereta api sendiri,” ucapnya.






