Petani Milenial Patah Arang Gegara Pemerintah Rajin Impor Komoditas Pangan

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id– Impor komoditas pangan yang dilakukan pemerintah, berdampak pada merosotnya harga komoditas pangan dalam negeri, sehingga membuat para generasi milenial mulai tidak simpatik dengan dunia pertanian dan lebih memilih bekerja pada sektor lain.

“Tindakan impor membunuh mimpi para petani untuk bertani. padahal tanah di Indonesia ini subur, tumbuhan apapun pasti akan hidup, mengapa harus impor hasil pertanian seperti, cabe, jagung padi, bawang, tomat dan masih banyak lagi. Padahal komoditas pangan seperti yang disebut ada diberbagai tempat dan lahan di Indonesia itu sangat luas,” kata petani muda asal Sleman, Satria saat ditemui Jurnalis JCCNetwork.id pada Jumat (12/5/2023)

- Advertisement -

Satria menyampaikan, setiap bulan petani hanya bisa hasilkan sekitar Rp1 juta, pasalnya ongkos produksi pangan seperti pupuk obat-obatan sangat mahal dan belum lagi ada permainan harga dari pengepul. Hal ini yang buat mayoritas usia petani hanya 45 tahun keatas dan tidak ada usia muda.

Petani muda asal Sleman tersebut mengatakan, produksi pangan dari petani dapat mengsejahterakan masyarakat sebab petani sebagai pelaku utama penyetok komoditas pangan di Indonesia.

“Kenapa petani selalu tidak ada kata sejahtera, karena kalo ada sejahtera pasti banyak anak muda yang bergabung untuk bertani dan tidak mungkin mereka bertolak kedunia pekerjaan lain,” ungkap satria.

- Advertisement -

Menurut data yang dikutip total lahan di Indonesia mencapai 70 juta Ha yang efektif untuk pertanian hanya 45 juta Ha. Maka perlu dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan komoditas bahan pangan.

“Kenapa bahan pangan harus impor padahal lahan pertanian di Indonesia sangat luas. Pola pikir ini perlu dirubah sehingga dapat menarik generasi milenial untuk terjun ke dunia pertanian dan kedepanya, bahan pangan tetap stabil dan tak perlu impor dari negara lain,” ungkap Satria.

Satria kembali memaparkan,Indonesia memiliki sumber daya yang melimpah. Namun kemampuan produksi di dalam negeri harus dibenahi baik dari sisi kualitas maupun kuantitas.

“Pemerintah terkhususnya Menteri Pertanian perlu kolaborasi dengan petani, agar dapat stabilkan produksi pangan di Indonesia sehingga mengurangi impor komoditas pangan yang merugikan petani-petani hebat di Nusantara,” pungkasnya.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

BMKG Prediksi Hujan Guyur 17 Wilayah Indonesia

JCCNetwork.id- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian besar wilayah Indonesia masih berpotensi diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga sedang pada Kamis (28/5/2026)....

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER