JCCNetwork.id– Mantan Ketua Umum MUI, M. Din Syamsuddin menyinggung soal masa-masa Pilpres 2019, kala menyoroti adanya penyerangan terhadap Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI), Jakarta Pusat.
Berawal dari Din Syamsuddin merasa prihatin dengan adanya penembakan di Kantor MUI oleh pelaku yang belakangan dinyatakan tewas usai beraksi.
“Sungguh memprihatinkan itu terjadi. Patut diduga pelakunya terpapar Islamofobia. Tindakan menyasar MUI akan mudah dipahami sebagai bermotif kebencian terhadap MUI atau Islam,” kata Din Syamsuddin, dalam keterangannya Selasa (23/4/2023).
Lalu ia menyinggung soal tindakan berupa penyerangan atau perusakan terhadap masjid/mushalla atau tokoh Islam seperti yang terjadi di beberapa tempat terakhir ini dapat dipersepsikan sebagai tindakan sistematis dan tendensius.
Kejadian serupa pernah terjadi berentetan jelang Pemilu/Pilpres 2019 tapi tidak pernah ada pengungkapan yang jelas.
“Waktu itu, Mabes Polri hanya menyatakan pelakunya ada orang-orang gila,” ucapnya.
Kejadian-kejadian seperti itu, masih lanjut Din Syamsudin, mengingatkan pada era Tahun 1965, kala sering terjadi perusakan masjid dan mushalla, serta penyerangan terhadap ulama dan zuama.
“Seperti masa itu, kita pun sekarang merasa living years dangerously atau hidup pada tahun-tahun bahaya,” ucapnya.
Maka, Din Syamsudin meminta Polri untuk mampu menangkap pelakunya dan mengungkap siapa dalang yang bermain di balik layar.
“Sayang pelakunya tidak dapat diinterogasi karena meninggal atau dianggap gila. Kok orang-orang gila bisa beramai-ramai merusak tempat ibadat ya,” tandasnya.
Sebelumnya, insiden penembakan terjadi di Kantor MUI di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Selasa (2/5/2023) siang. Peristiwa penembakan itu menyebabkan ada pegawai terluka.
Sesuai identitas yang polisi temukan di tempat kejadian perkara, pelaku bernama Mustopa NR. Kelahiran Sukajaya, Lampung 9 April 1963. Bertempat tinggal di RT 06 RW 02 Sukajaya, Kecamatan Kedondong, Kabupaten Pesawaran, Lampung.























