Gelombang Panas Eropa Tewaskan 14 Ribu Orang

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Gelombang panas ekstrem yang melanda kawasan Eropa sejak pertengahan Juni terus menimbulkan dampak serius. Sejumlah negara mencatat rekor suhu tertinggi baru, dengan temperatur di beberapa wilayah melampaui 40 derajat Celsius. Kondisi cuaca yang tidak biasa tersebut tidak hanya memicu krisis lingkungan, tetapi juga menyebabkan lonjakan angka kematian di berbagai negara.

Berdasarkan laporan terbaru yang dirilis pada Senin, sedikitnya 14.000 orang diperkirakan meninggal dunia di enam negara Eropa yang paling terdampak selama periode akhir Juni. Angka tersebut merupakan hasil penggabungan data kematian awal serta analisis para peneliti yang menilai lonjakan korban jiwa berkaitan erat dengan suhu ekstrem yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

- Advertisement -

Jerman menjadi negara dengan jumlah korban terbanyak, yakni sekitar 6.800 kematian. Sementara itu, Inggris mencatat sekitar 2.200 kematian, disusul Prancis sebanyak 2.000 orang dan Belgia sekitar 1.740 orang. Di Spanyol, jumlah korban diperkirakan mencapai 810 orang, sedangkan Belanda mencatat sekitar 480 kematian selama periode yang sama.

Para peneliti menjelaskan bahwa peningkatan angka kematian tersebut diyakini berkaitan langsung dengan gelombang panas yang melanda kawasan Eropa. Kesimpulan tersebut diambil setelah tidak ditemukan faktor lain maupun ancaman kesehatan masyarakat yang dapat menjelaskan lonjakan kematian secara bersamaan di sejumlah negara.

Selain menelan korban jiwa, suhu ekstrem juga memicu berbagai bencana lain. Italia kini memasuki fase paling intens dari gelombang panas ketiga sepanjang tahun 2026. Wilayah Sardinia diperkirakan mengalami suhu udara hingga mencapai 45 derajat Celsius, salah satu yang tertinggi di kawasan Mediterania.

- Advertisement -

Kondisi tersebut memperparah kekeringan yang telah berlangsung selama beberapa waktu. Berkurangnya cadangan air menyebabkan sejumlah wilayah menghadapi krisis pasokan air bersih, sehingga pemerintah daerah terpaksa memberlakukan berbagai langkah penghematan penggunaan air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Di Prancis, dampak gelombang panas juga memicu kebakaran hutan berskala besar. Api melanda kawasan di dekat Paris dan terus menyebar akibat cuaca kering serta embusan angin. Otoritas setempat melakukan upaya pemadaman secara intensif sekaligus mengevakuasi warga yang tinggal di sekitar kawasan hutan Fontainebleau guna menghindari risiko yang lebih besar.

Fenomena suhu ekstrem yang melanda Eropa dalam beberapa tahun terakhir dinilai semakin sering terjadi. Para ahli iklim menilai peningkatan intensitas gelombang panas menjadi salah satu dampak perubahan iklim global yang memperbesar risiko terhadap kesehatan masyarakat, sektor pertanian, ketersediaan air, hingga meningkatnya potensi kebakaran hutan.

Pemerintah di berbagai negara Eropa terus mengimbau masyarakat, terutama kelompok lanjut usia, anak-anak, dan penderita penyakit kronis, agar membatasi aktivitas di luar ruangan saat suhu berada pada titik tertinggi. Langkah antisipasi juga dilakukan melalui penyediaan pusat pendinginan, distribusi air minum, serta peningkatan layanan kesehatan untuk menghadapi kemungkinan bertambahnya korban akibat cuaca panas ekstrem.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Pengamat Dukung Tarif Baru Transjakarta

JCCNetwork.id- Wacana penyesuaian tarif layanan Transjakarta dan Transjabodetabek kembali mengemuka setelah Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) mengusulkan perubahan tarif angkutan umum berbasis bus di...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER