Harga Telur Turun, BI Dorong Perluasan Pasar

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id – Bank Indonesia (BI) mencatat harga telur ayam ras mengalami penurunan hingga berada di bawah Harga Acuan Pemerintah (HAP) akibat melimpahnya pasokan yang belum diimbangi peningkatan permintaan.

Sdekaat ini harga telur berada di kisaran Rp23.000 hingga Rp25.000 per kilogram, lebih rendah dibandingkan HAP sebesar Rp26.500 per kilogram.

- Advertisement -

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Purwokerto, Christoveny, mengatakan kondisi tersebut dipicu meningkatnya produksi telur ayam ras di berbagai daerah yang menyebabkan kelebihan pasokan di tingkat peternak.

Menurutnya, upaya yang perlu diprioritaskan bukan membatasi produksi, melainkan memperluas akses pasar agar hasil peternakan dapat terserap dan harga kembali stabil.

“Dalam kondisi pasokan melimpah, yang perlu dilakukan adalah membuka pasar baru agar kelebihan produksi dapat terserap dan harga tidak terus tertekan,” kata Christoveny di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Selasa (7/7/2026).

- Advertisement -

BI mendorong penguatan distribusi melalui kerja sama antardaerah (KAD) sebagai salah satu solusi mengatasi surplus produksi.

Melalui skema tersebut, telur ayam ras yang diproduksi Pondok Pesantren Modern ZIIS (Zamzam Integrated Islamic School) dipasarkan melalui Badan Usaha Milik Petani (BUMP) PT Wijaya Kusuma Pangan Mandiri bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Cilacap.

“Kerja sama antardaerah menjadi salah satu solusi mengatasi kelebihan pasokan sekaligus memenuhi kebutuhan daerah lain. BI juga mendorong kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan serta program kreatif untuk memperkuat distribusi dan pemasaran produk pertanian maupun peternakan,” ujarnya.

Selain memperluas jaringan pemasaran, BI juga mengajak pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan memperkuat kolaborasi dalam distribusi produk pertanian dan peternakan guna menjaga keseimbangan pasokan serta permintaan.

Dalam kesempatan yang sama, Christoveny menyampaikan perekonomian Banyumas Raya yang meliputi Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara tetap mencatat pertumbuhan positif pada triwulan I 2026 dengan laju sebesar 5,53 persen.

“Pertumbuhan ekonomi Banyumas Raya pada triwulan I 2026 ditopang meningkatnya konsumsi rumah tangga, pembangunan infrastruktur, investasi swasta, serta sektor pertanian yang memasuki masa panen raya,” katanya.

Pertumbuhan ekonomi kawasan tersebut didorong oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga, pembangunan infrastruktur, investasi swasta, serta sektor pertanian yang memasuki masa panen raya.

Secara regional, Kabupaten Banjarnegara mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi sebesar 6,57 persen, disusul Kabupaten Cilacap 6,35 persen, Kabupaten Purbalingga 5,35 persen, dan Kabupaten Banyumas 5,32 persen.

BI menilai penguatan distribusi dan pembukaan pasar baru menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas harga telur, sehingga tetap memberikan keuntungan bagi peternak sekaligus menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Polisi Ringkus Dua Pengedar Sabu di Pekanbaru

JCCNetwork.id- Satuan Reserse Narkoba Polresta Pekanbaru berhasil menggagalkan dugaan transaksi narkotika jenis sabu di Kota Pekanbaru, Riau. Dalam operasi tersebut, dua orang terduga pengedar...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER