Rupiah Melemah ke Rp17.483 per Dolar AS

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa (12/5/2026) pagi. Mata uang Garuda tercatat melemah 69 poin atau sekitar 0,40 persen ke posisi Rp17.483 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.414 per dolar AS.

Pelemahan rupiah dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik, mulai dari memanasnya tensi geopolitik global hingga sentimen pasar terhadap kondisi ekonomi nasional. Sejumlah analis menilai pergerakan rupiah sepanjang hari ini masih akan dibayangi ketidakpastian pasar keuangan internasional.

- Advertisement -

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan tekanan terhadap rupiah terutama datang dari meredupnya harapan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut turut memicu kenaikan harga minyak mentah dunia dan mendorong penguatan dolar AS.

Menurutnya, meningkatnya risiko geopolitik membuat pelaku pasar cenderung memburu aset aman seperti dolar AS. Situasi ini kemudian berdampak langsung terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Rupiah diperkirakan akan masih berpotensi melemah terhadap dolar AS di tengah meredupnya harapan damai AS-Iran serta harga minyak mentah dunia yang masih tinggi,” katanya.

- Advertisement -

Ia memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini berada di kisaran Rp17.350 hingga Rp17.500 per dolar AS. Rentang tersebut menunjukkan volatilitas pasar yang masih cukup tinggi akibat sentimen global yang belum stabil.

Selain faktor geopolitik, investor juga menanti rilis data penjualan ritel Indonesia periode Maret 2026 yang dijadwalkan diumumkan siang ini. Data tersebut dinilai penting untuk melihat kekuatan konsumsi domestik di tengah tekanan ekonomi global.

Lukman menyebut penjualan ritel diperkirakan tumbuh sekitar 6,8 persen secara tahunan, sedikit lebih tinggi dibandingkan capaian Februari yang berada di level 6,5 persen. Kenaikan tersebut diharapkan dapat memberikan sentimen positif terhadap pasar keuangan domestik, meskipun pengaruhnya diperkirakan masih terbatas.

“Penjualan ritel diperkirakan sedikit lebih tinggi, (yaitu) 6,8 persen, dibandingkan Februari 6,5 persen,” ungkap Lukman.

Di sisi lain, pasar juga menyoroti pengumuman peninjauan indeks dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Kebijakan itu diperkirakan memberi tekanan tambahan terhadap pasar saham Indonesia dan berdampak pada nilai tukar rupiah.

Lukman mengatakan terdapat potensi sejumlah saham keluar dari indeks MSCI, termasuk kemungkinan penurunan peringkat terhadap beberapa saham berkapitalisasi besar. Kondisi tersebut dinilai dapat memicu keluarnya dana asing dari pasar modal domestik.

“Akan ada saham-saham yang didepak, dan beberapa saham kapitalisasi besar yang di downgrade,” ujar dia.

Sementara itu, perkembangan konflik di Timur Tengah terus menjadi perhatian utama pasar global. Iran sebelumnya dilaporkan mengajukan proposal kepada AS untuk menghentikan konflik di berbagai lini, termasuk meminta jaminan tidak ada lagi agresi terhadap Iran serta pencabutan sanksi ekonomi dan blokade angkatan laut.

Proposal tersebut juga mencakup permintaan tenggat waktu 30 hari bagi AS untuk mencabut sanksi terhadap penjualan minyak Iran serta membebaskan aset-aset Iran yang dibekukan.

Namun, pemerintah Iran menolak proposal perdamaian yang diajukan Washington karena dianggap berisi tuntutan berlebihan. Penolakan itu memperburuk ekspektasi pasar terhadap peluang tercapainya stabilitas geopolitik dalam waktu dekat.

Presiden AS, Donald Trump, bahkan menyebut respons Iran terhadap proposal damai AS sebagai sesuatu yang “tidak bisa diterima”. Pernyataan tersebut semakin meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi eskalasi konflik yang dapat mengganggu pasokan energi global dan memperkuat tekanan terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Banjir Rendam 657 Rumah di Kendari

JCCNetwork.id- Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, menyebabkan ratusan rumah warga terendam dan ribuan masyarakat terdampak. Badan Penanggulangan Bencana Daerah...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER