Sejarah Peristiwa Kurban Nabi Ibrahim Kepada Ismail

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id – Hari Raya Idul Adha  dinamakan hari raya haji, hari kurban, Idul Nahr, artinya hari raya penyembelihan. Dari sisi historis perayaan hari kurban, teringat kisah Nabi Ibrahim.

Ia diperintahkan Tuhan menempatkan istrinya bernama Hajar dan putranya, Nabi Ismail, yang saat itu masih menyusu, di lembah padang pasir tandus, gersang, tidak ada pohon.

- Advertisement -

Lembah itu sepi, tidak berpenghuni manusia. Nabi Ibrahim tidak tahu, apa maksud dari wahyu Tuhan menyuruh menempatkan istri dan putranya ditempatkan di sebelah utara sekitar 1600 km dari Palestina.

Siti Hajar kehabisan air minum, hingga tidak biasa menyusui anaknya. Ia mencari air kesana kesini sambil lari-lari kecil (Sa’i) antara bukit Sofa dan Marwah sebanyak 7 kali.

Tiba-tiba Tuhan mengutus malaikat Jibril membuat mata air zam zam. Dan akhirnya, Siti Hajar dan anaknya Ismail terbebas dari rasa kehausan. Lembah yang dulu gersang itu, kini mempunyai persediaan air melimpah, didatangi manusia dari berbagai pelosok dunia.

- Advertisement -

Datang rejeki dari berbagai penjuru, dan makmurlah tempat sekitarnya. Lembah itu kini terkenal dengan kota Makkah. Kota yang aman dan makmur berkat do’a Nabi Ibrahim, sesuai sabda Tuhan kepada Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an.

Kemakmuran Kota Makkah tidak hanya dinikmati oleh orang Islam saja. Orang non muslim pun ikut menikmati dan merasakan.

Buah dari kesabaran dan ketabahan Ibrahim dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan, Allah memberinya sebuah anugerah, sebuah kehormatan “Khalilullah” (Kekasih Allah).

Ibnu Katsir dalam tafsir Al-Qur’anul ‘adzim mengemukakan, ucapan Nabi Ibrahim akan mengorbankan anaknya jika diperintahkan Tuhan, inilah kemudian hari dijadikan bahan ujian.

Tuhan menguji iman dan taqwa Nabi Ibrahim melalui mimpinya yang haq, agar dirinya mengorbankan putranya, Ismail saat itu berusia tujuh tahun.

Ketika Nabi Ibrahim dan Ismail siap untuk melaksanakan perintah Tuhan, datanglah iblis berusaha mempengaruhi Ibrahim agar menolak perintah Tuhan.

“Kamu orang tua macam apa?. Anak saja disembelih?. Apa kata orang nanti?. Apa tidak malu?. Tega sekali, anak satu-satunya disembelih. Coba lihat, anak lincah seperti itu. Anak pintar lagi, enak dipandang, anak patuh seperti itu dipotong?. Tidak punya lagi nanti setelah itu. Belum tentu nanti ada lagi seperti Dia (Ismail),” hasut iblis secara bertubi-tubi.

Namun, Nabi Ibrahim sudah yakin dan tidak terpengaruh hasutan iblis tersebut. Ia mengambil batu, lalu mengucapkan, Bismillahi Allahu akbar. Batu itu dilempar ke iblis untuk mengusir agar tidak menghasut.

Ketika Nabi Ibrahim belum juga mengayunkan pisau ke leher putranya. Ismail mengira ayahnya ragu, seraya Ia melepaskan tali pengikat tangannya.

Nabi Ibrahim memantapkan niatnya. Nabi Ismail pasrah, seperti ayahnya yang sudah berserah diri atas perintah Tuhan.

Sedetik, pisau nyaris digerakkan, tiba-tiba Tuhan mengintruksikan Nabi Ibrahim, menyuruh menghentikan penyembelihan sang anak, agar tidak usah diteruskan ritual pengorbanan itu.

Tuhan telah ridho kepada Nabi Ibrahim dan Ismail memasrahkan tawakkal mereka. Sebagai imbalan keikhlasan mereka, Allah cukupkan dengan penyembelihan seekor kambing sebagai korban hingga saat ini, sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an surat As-Saffat ayat 107-110.

(Dede Rosyadi)

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Pimpinan BGN Datangi Gedung Merah Putih KPK

JCCNetwork.id- Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S. Deyang mendatangi Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Selasa (7/7/2026), didampingi jajaran pimpinan BGN....

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER