JCCNetwork.id-Harga emas dan perak dunia ditutup melemah tajam pada perdagangan Selasa (23/6) waktu Amerika Serikat setelah meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) menekan minat investor terhadap aset logam mulia.
Kontrak berjangka emas tercatat turun sebesar US$43,40 atau 1,03 persen ke level US$4.
142 per ons. Sementara itu, harga perak berjangka merosot lebih dalam, yakni US$3,39 atau 5,17 persen menjadi US$62,25 per ons.
Penurunan harga logam mulia terjadi seiring aksi jual yang melanda saham-saham teknologi global dan memicu perubahan sentimen pasar.
Kondisi tersebut mendorong investor mengurangi kepemilikan pada sejumlah instrumen investasi, termasuk emas dan perak.
Tekanan terhadap harga emas semakin kuat setelah hasil pertemuan Federal Reserve pekan lalu dinilai menunjukkan sikap yang lebih agresif dalam kebijakan moneter.
Pandangan tersebut memunculkan spekulasi bahwa bank sentral Amerika Serikat masih membuka peluang menaikkan suku bunga hingga akhir 2026.
Kenaikan suku bunga umumnya menjadi faktor negatif bagi emas karena instrumen tersebut tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau deposito.
Akibatnya, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang menawarkan keuntungan lebih tinggi.
Di sisi lain, peran emas sebagai aset lindung nilai juga mulai menghadapi tantangan.
Sejumlah pelaku pasar menilai faktor-faktor yang sebelumnya mendukung kenaikan harga emas, termasuk ketegangan geopolitik global, kini tidak lagi memberikan dorongan yang signifikan.
Sejumlah lembaga keuangan internasional bahkan mulai merevisi proyeksi harga emas.
Deutsche Bank memangkas target harga emas untuk kuartal III 2026 menjadi US$4.300 per ons jika suku bunga tetap bertahan di level saat ini.
Namun, apabila terjadi beberapa kali kenaikan suku bunga tambahan, harga emas diperkirakan berpotensi turun hingga US$3.800 per ons.
Analis komoditas Michael Widmer juga menilai proyeksi harga emas mencapai US$6.000 per ons semakin sulit terealisasi.
Menurutnya, inflasi yang masih tinggi dapat mendorong The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat dalam jangka waktu lebih panjang.
Saat ini, pelaku pasar menunggu rilis data ekonomi terbaru Amerika Serikat serta pernyataan lanjutan dari pejabat Federal Reserve yang dinilai akan menjadi penentu arah pergerakan harga emas dan perak dalam beberapa waktu ke depan.



