Pemerintah Pastikan Stok dan Harga Pangan Terkendali Jelang Lebaran

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) RI Dyah Roro Esti Widya Putri melakukan peninjauan langsung harga kebutuhan pokok di Pasar Tradisional Summerland, Batam, Kepulauan Riau, Senin. Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bagian dari langkah pemerintah memantau stabilitas harga pangan menjelang Idul Fitri 1477 Hijriah.

Dalam peninjauan tersebut, Wamendag memastikan kondisi harga sejumlah komoditas utama masih relatif stabil dan tidak mengalami lonjakan signifikan. Pemerintah, melalui Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, terus melakukan pemantauan langsung di berbagai daerah guna memastikan ketersediaan pasokan serta menjaga harga tetap terkendali menjelang meningkatnya permintaan masyarakat pada periode hari raya.

- Advertisement -

Dyah mengatakan kunjungan ke pasar rakyat menjadi salah satu strategi pemerintah untuk memperoleh gambaran riil mengenai kondisi harga di lapangan. Menurutnya, aktivitas pemantauan ini semakin intens dilakukan menjelang momen Lebaran, ketika konsumsi masyarakat cenderung meningkat.

“Kami hari ini meninjau Pasar Tradisional Summerland untuk memantau harga bahan pokok. Karena sudah mendekati Hari Raya Idul Fitri, Kementerian Perdagangan aktif mengunjungi berbagai daerah,” kata Wamen Dyah di Batam, Senin.

Berdasarkan hasil pemantauan di Pasar Tradisional Summerland, sejumlah komoditas pangan terpantau masih berada pada level yang stabil, bahkan sebagian berada di bawah harga acuan penjualan (HAP) yang telah ditetapkan pemerintah.

- Advertisement -

Harga cabai rawit di pasar tersebut tercatat sekitar Rp60 ribu per kilogram, sementara cabai merah dijual sekitar Rp80 ribu per kilogram. Untuk komoditas bawang merah, harga berada di kisaran Rp32 ribu per kilogram, sedangkan bawang putih dijual sekitar Rp38 ribu per kilogram.

“Kami melihat beberapa komoditas seperti bawang merah dan bawang putih bahkan jauh di bawah harga acuan. Minyakita dan beras juga masih di bawah harga acuan dengan stok yang cukup,” ujarnya.

Dyah menjelaskan beberapa komoditas seperti bawang merah dan bawang putih bahkan berada jauh di bawah harga acuan yang berlaku. Kondisi ini dinilai cukup positif karena menunjukkan pasokan di pasar masih terjaga dengan baik.

Selain komoditas hortikultura, pemerintah juga memantau harga sejumlah bahan pangan lainnya seperti daging, beras, dan minyak goreng. Berdasarkan data yang dihimpun di pasar tersebut, harga daging sapi beku impor asal Australia berada di kisaran Rp130 ribu per kilogram. Sementara itu, daging ayam beku dijual sekitar Rp42 ribu per kilogram dan ayam segar sekitar Rp45 ribu per kilogram.

Untuk komoditas minyak goreng rakyat, produk Minyakita dijual sekitar Rp15.700 per liter. Sedangkan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dipasarkan sekitar Rp12.500 per kilogram. Kedua komoditas tersebut juga tercatat masih berada di bawah harga acuan pemerintah.

Selain memantau harga, Wamendag juga meninjau kondisi fasilitas dan pengelolaan pasar. Ia mengapresiasi pengelolaan Pasar Tradisional Summerland yang dinilai telah memenuhi standar pasar nasional setelah memperoleh sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI).

Menurut Dyah, penerapan standar nasional tersebut menjadi indikator penting dalam meningkatkan kualitas pengelolaan pasar rakyat, mulai dari aspek kebersihan, tata kelola, hingga kenyamanan bagi pedagang dan pembeli.

Tidak hanya itu, pasar tersebut juga dinilai telah menerapkan langkah digitalisasi transaksi melalui penggunaan sistem pembayaran QRIS. Meski demikian, transaksi secara tunai masih tetap tersedia sehingga memberikan fleksibilitas bagi masyarakat dalam berbelanja.

“Kami mengapresiasi karena pasar ini sudah mendapatkan sertifikat SNI. Digitalisasi juga sudah berjalan dengan adanya pembayaran QRIS, namun tetap menerima pembayaran tunai,” katanya.

Ia berharap Pasar Summerland dapat menjadi contoh pengelolaan pasar rakyat di daerah lain, khususnya dalam menjaga kebersihan, tata ruang, serta transparansi harga komoditas.

Meski secara umum harga relatif stabil, Dyah mengakui masih terdapat beberapa komoditas yang mengalami kenaikan di sejumlah wilayah, salah satunya cabai rawit. Kenaikan harga tersebut terjadi akibat fluktuasi pasokan yang dipengaruhi kondisi distribusi dan produksi di beberapa daerah.

Menurutnya, fenomena kenaikan harga cabai rawit tidak hanya terjadi di Batam, tetapi juga terpantau di beberapa daerah lain seperti Tangerang Selatan.

Ia menjelaskan bahwa harga normal cabai rawit di Batam biasanya berada di kisaran Rp40 ribu hingga Rp57 ribu per kilogram. Namun saat ini harga di pasar tersebut mencapai sekitar Rp60 ribu per kilogram.

Pemerintah, kata Dyah, akan terus memantau pergerakan harga komoditas tersebut di berbagai daerah guna memastikan tidak terjadi lonjakan yang dapat memberatkan masyarakat.

“Kenaikan harga cabai rawit terjadi di beberapa daerah seperti di sini dan juga di Tangerang Selatan. Ini menjadi catatan bagi kami untuk terus memantau pergerakan harga di berbagai daerah,” katanya.

Pemerintah juga menegaskan akan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan pelaku distribusi pangan, guna menjaga stabilitas pasokan dan harga menjelang Lebaran agar masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Harga Minyakita Turun, Distribusi Diperkuat

JCCNetwork.id- Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) melaporkan adanya tren penurunan harga minyak goreng rakyat Minyakita di sejumlah wilayah. Upaya penguatan distribusi terus dilakukan,...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER