Koma.id- Presiden Prabowo Subianto disoroti publik terkait program gentengisasi rumah masyarakat di seluruh Indonesia. Rencana itu pertama kali dicetuskan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) ini bertujuan mengganti atap seng dengan genteng, diklaim dapat meningkatkan kualitas hunian sekaligus memberdayakan ekonomi lokal.
Program ini disambut antusias oleh sejumlah kalangan, khususnya perajin genteng dan industri keramik lokal, yang melihatnya sebagai peluang ekonomi baru. Namun, sejumlah pakar mengingatkan adanya risiko pengabaian nilai sosial budaya dan arsitektur tradisional nusantara.
Dosen Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Ashar Saputra, menekankan bahwa program ini tidak bisa diterapkan secara seragam di seluruh wilayah. Ia menyebut ada tiga aspek krusial yang harus diperhatikan: teknis, sosial budaya, dan keberlanjutan.
Ashar menyoroti pentingnya mempertahankan identitas budaya dalam pembangunan hunian. Ia mencontohkan rumah adat seperti Rumah Gadang di Sumatra Barat, Tongkonan di Toraja, serta rumah tradisional di Nias dan Papua, yang setiap desain atap dan materialnya mencerminkan nilai kultural masyarakat setempat.



