Harga Minyak Bergerak Tipis di Tengah Sanksi AS dan Konflik Rusia-Ukraina

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Pergerakan harga minyak dunia cenderung terbatas pada perdagangan Selasa (24/12/2025), di tengah tarik-menarik sentimen antara potensi pelepasan minyak sitaan Amerika Serikat dari Venezuela dan meningkatnya risiko gangguan pasokan akibat eskalasi konflik Rusia-Ukraina.

 

- Advertisement -

Mengacu data penutupan pasar, harga minyak Brent tercatat menguat tipis 31 sen ke level USD 62,38 per barel. Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), naik 37 sen dan berakhir di USD 58,38 per barel.
Kenaikan tersebut melanjutkan tren positif dari sesi sebelumnya.

Pada Senin, harga minyak melonjak lebih dari dua persen, dengan Brent mencatat kenaikan harian tertinggi dalam dua bulan terakhir dan WTI membukukan lonjakan terbesar sejak pertengahan November. Meski demikian, analis menilai ruang penguatan harga mulai terbatas.

Analis pasar dari IG, Axel Rudolph, menyebut melimpahnya pasokan global menjadi penahan utama laju kenaikan. Tingginya volume minyak yang tersimpan di fasilitas penyimpanan terapung tertinggi sejak 2020 membuat pasar relatif jenuh, terlebih pada periode libur akhir tahun yang biasanya diwarnai aktivitas perdagangan rendah.

- Advertisement -

Dari sisi kebijakan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pemerintahnya tengah mempertimbangkan berbagai opsi terhadap minyak mentah dan kapal tanker Venezuela yang disita dalam beberapa pekan terakhir.

Opsi tersebut mencakup penjualan ke pasar, penyimpanan sebagai aset strategis, atau memasukkannya ke dalam cadangan minyak strategis AS.

Trump menegaskan minyak sitaan tersebut tidak akan dikembalikan ke Venezuela.
Langkah Washington ini menjadi bagian dari pengetatan sanksi dan blokade terhadap sektor energi Venezuela.

Pemerintah AS dilaporkan telah menyita satu kapal tanker besar yang membawa lebih dari satu juta barel minyak mentah pada 10 Desember, mencegat kapal kedua, dan tengah memburu tanker ketiga yang diduga melanggar sanksi.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik di kawasan Laut Hitam turut menopang harga minyak. Serangan Rusia ke pelabuhan Odesa, Ukraina, merusak fasilitas pelabuhan dan sebuah kapal, sementara serangan balasan Ukraina menghantam kapal dan dermaga di wilayah Krasnodar, Rusia.

Ukraina juga dilaporkan mengincar armada tanker bayangan Rusia yang berupaya menghindari sanksi internasional.
Barclays dalam catatan terbarunya menilai pasar minyak global masih akan berada dalam kondisi pasokan memadai pada paruh pertama 2026.

Namun, bank tersebut memperkirakan surplus minyak akan menyempit signifikan menjadi sekitar 700 ribu barel per hari pada kuartal IV 2026. Jika gangguan pasokan berlanjut, kondisi tersebut berpotensi memperketat pasar dan mendorong volatilitas harga ke depan.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Kejagung Pastikan Jampidsus Tetap Berjalan Normal

JCCNetwork.id- Kejaksaan Agung memastikan aktivitas penegakan hukum di lingkungan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) tetap berjalan normal setelah Febrie Adriansyah resmi...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER