JCCNetwork.Id – Dua kapal nelayan yang mengangkut 15 awak kapal kandas di perairan dekat Pulau Jeju, Korea Selatan, pada Sabtu (27/1). Insiden ini menyebabkan dua orang tewas, salah satunya adalah warga negara Indonesia (WNI), sementara dua awak lainnya masih dinyatakan hilang.
Menurut laporan penjaga pantai, insiden ini terjadi sekitar pukul 09.24 waktu setempat ketika kapal nelayan berbobot 32 ton yang membawa tujuh awak dan kapal lain berbobot 29 ton dengan delapan awak menabrak bebatuan di perairan sekitar Pulau Jeju.
Operasi penyelamatan segera dilakukan oleh penjaga pantai, dan hingga pukul 15.00 waktu setempat, sebanyak 13 awak telah berhasil dievakuasi. Namun, dua di antaranya ditemukan dalam kondisi henti jantung dan kemudian dinyatakan meninggal dunia. Salah satu korban tewas adalah kapten kapal berbobot 32 ton yang berusia 50-an. Ia ditemukan dalam keadaan kritis dan segera dilarikan ke rumah sakit sebelum akhirnya meninggal.
Korban tewas lainnya adalah seorang awak kapal berkewarganegaraan Indonesia yang ditemukan sekitar empat jam setelah kecelakaan terjadi. Ia juga dalam kondisi henti jantung saat ditemukan dan dinyatakan meninggal dunia setelah dievakuasi ke rumah sakit.
Di antara awak yang berhasil diselamatkan, satu orang sempat pingsan dan dilarikan ke rumah sakit, namun kondisinya tidak mengkhawatirkan. Sementara itu, 10 orang lainnya mengalami hipotermia ringan akibat terpapar suhu dingin di laut.
Operasi pencarian terhadap dua awak kapal yang masih hilang terus dilakukan oleh tim penyelamat. Namun, upaya ini terhambat oleh kondisi cuaca yang buruk dan gelombang tinggi di perairan Jeju.
Penjaga pantai melaporkan bahwa salah satu personel mereka mengalami cedera tangan setelah tersapu ombak dan menghantam bebatuan saat menjalankan misi penyelamatan.
Kapten dari kedua kapal yang kandas adalah warga negara Korea Selatan, sedangkan awak lainnya terdiri dari warga asing, termasuk dari Vietnam dan Indonesia.
Pemerintah Korea Selatan telah mengerahkan berbagai sumber daya untuk mempercepat upaya pencarian. Operasi penyelamatan melibatkan sembilan kapal patroli angkatan laut, satu kapal perang, serta enam kapal sipil. Sekitar 100 personel dikerahkan untuk menyisir area pesisir guna mencari korban yang masih hilang.
Sementara itu, Pejabat Presiden Sementara Choi Sang-mok telah memerintahkan seluruh pejabat terkait untuk menggunakan semua sumber daya yang tersedia demi menyelamatkan para awak kapal. Ia juga menekankan pentingnya menjaga keselamatan para petugas penyelamat mengingat kondisi cuaca yang berbahaya.
Hingga saat ini, pencarian terhadap dua awak yang hilang masih terus berlanjut dengan harapan mereka dapat ditemukan dalam keadaan selamat.



