JCCNetwork.id – Pakar Telematika Independen, Roy Suryo menilai, bahwa kebocoran daftar pemilih tetap (DPT) di KPU bukan hal yang sederhana. Bahkan masalah ini, lanjut dia, bisa berpotensi memicu kekacauan alias chaos hasil Pemilu 2024.
Hal ini juga menurutnya tidak terlepas dari kepentingan oknum tertentu yang dengan sengaja untuk mengadu-domba masyarakat. Oleh karenanya, bahaya ini perlu mendapat perhatian serius dari lembaga terkait khsusnya KPU RI.
“Diduga ada orang-orang yang memanfaatkan atau bahkan mengadu-domba bisa. Ini yang harus di waspadai, karena kalau ini nggak di hati-hati benar-benar ini akan berbahaya,” ucap Roy Suryo dalam keterangannya di Youtube JCC Network, Selasa (5/12/2023).
“Saya tidak manakut-nakuti masyarakat ya, tapi saya selalu memberikan peringatakn dari awal. Karena ini jangan di anggap simpel, jangan di anggap sederhana karena efeknya saya bahkan menyebut dalam tulisan saya ini bisa chaos,” tambahnya.
Diketahui, sebelumnya daftar pemilih tetap diduga diretas oleh oknum hacker bernama semaran Jimbo. Bahkan, kebocoran data ini pun menjadi viral dan di laporkan dalam BrechForums baru-baru ini.
“Sebagaimana di ketahui data tersebut di jual dengan 2 BTC (Bitcoin) seharga US$74 ribu atau sekitar Rp1,2 miliar. Data itu memuat informasi dari 204 juta (tepatnya 204.807.203) orang meliputi NIK, NKK, nomor KTP, TPS, e-KTP, jenis kelamin dan tanggal lahir. Data itu juga termasuk dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia dan Kedutaan Besar RI di luar negeri,” jelasnya.
Menurut dia, akibat dari peretasan ini tidak hanya menyebabkan kerugian besar secara teknis, tetapi juga secara sosial politik. Bahkan, berpotensi menggoyang kepercayaan masyarakat terhadap integritas demokrasi di tanah air.
Terlebih lagi, dengan biaya demokrasi yang sangat besar, mencapai Rp76,6 triliun rupiah untuk Pemilu 2024.
“Kalau hanya secara teknis menjadi signifikasi terlalu terlalu simpel memandangnya. Padahal, dampaknya terlalu besar ke masyarakat,” tandasnya.



