JCCNetwork.id- Puncak penyelenggaraan KTT ASEAN di Jakarta, tidak berdampak apapun pada kualitas udara di Ibu Kota.
Meskipun pemerintah mengklaim telah melakukan beberapa tindakan perbaikan, seperti pengalihan jalur pembatasan kendaraan dan penerapan pembelajaran jarak jauh, dan WFH nyatanya kualitas udara selama KTT ASEAN justru semakin memburuk di wilayah lain.
Kemudian banyak masalah lain yang muncul, seperti kesulitan orang untuk mengakses pergi ke kantor akibat penutupan jalan. Kemudian timbul kemacetan lalu lintas di berbagai titik akibat perubahan rute perjalanan dan mengganggu masyarakat.
Hal ini, menunjukkan bahwa upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah hanyalah pencitraan dan permainan trik untuk menunjukkan keseriusan dalam mengatasi polusi.
“Menurut kami upaya-upaya yang dilakukan hanya pencitraan dan gimmick dan tidak mengarah pada solusi,” kata Aktivis lingkungan dan pengampanye polusi dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Abdul Ghofar kepada JCCNetwork.id, Senin (11/9/2023).
Di samping itu, pemerintah mungkin telah mengumumkan tindakan keras terhadap perusahaan-perusahaan pelaku pencemaran sejak bulan Agustus, termasuk industri berat seperti pabrik semen dan peleburan besi baja dll. Tetapi langkah itu tergolong sangat lambat.
Lalu seharusnya pemerintag juga jujur dan transparan tentang nama-nama perusahaan-perusahaan mana yang terlibat dalam tindakan pencemaran ini.
Di samping itu, pertanyaan yang masih menggantung adalah jenis sanksi administratif apa yang akan diterapkan kepada 11 perusahaan pencemaran ini?
“Kita berharap kepada pemerintah harus ada yang progres. Jika terjadi pengulangan pemerintah harus berani mencabut izin perusahaan karena melakukan pencemaran secara berulang. Jadi kuncinya itu transparansi konsisten penegakan hukum terhadap pelaku pelanggaran,” tutup Abdul Ghofar.























