JCCNetwork.id– Mantan agen Marco Verrati, Donato Di Campli menyebut, cara Paris Saint-Germaint (PSG) membatalkan kepindahan eks klienya ke Barcelona sangat diluar nalar.
“Sikap PSG selalu memeras. Kami telah memutuskan untuk pergi ke Barcelona. Itu, jelas, emir tidak suka. Al Khelaifi bahkan mengatakan kepada saya bahwa jika saya terus mencoba melakukan operasi dengan Barca, Verratti akan membiarkan saya pergi. Dan begitulah akhirnya terjadi. Saya yakin Marco takut, dia tidak mau mengakuinya, tapi begitulah.” ungkap Di Campli.
Mantan agen Verratti itu menyebut sosok kunci kejadian itu datang dari presiden PSG Nasser Al-Khelaifi serta beberpa tokoh penting lainnya yang berada di balik layar klub.
“Sejak hari dia tiba, Verratti berada di penjara. Ketika kami berbicara dengan Barcelona, PSG bertemu dengannya beberapa kali, mereka mengatakan kepadanya bahwa mereka akan merekrut Neymar, bahwa mereka akan melakukan proyek di sekelilingnya. Jika Anda menentang mereka, semuanya menjadi sesuatu yang pribadi.” ucapnya.
Di Campli menyampaikan, sebelumnya mantan presiden Barcelona Josep Maria Bartomeu, berusaha menjalin hubungan baik dengan beberapa kali mengontak Al Khelaifi, tapi tak digubris. Hal tersebut menjadi kekecewaan, yang sangat buruk.
“Mantan presiden Josep Maria Bartomeu tidak berhenti menelepon Al Khelaifi dan dia tidak pernah, tidak pernah menjawab telepon. Pengalaman saya dengan mereka sangat buruk, sangat buruk.
Mantan agen pemain timnas Italia itu, melanjutkan, Manajemen PSG hanya berfokus ke uang sehingga membuat klub tersebut seakan-akan tidak berjiwa akibatnya tidak adanya kebebasan untuk pemain menentukan masa depannya. Emir dan Al Khelaifi selalu menganggap semuanya dapat ditaklukan dengan uang, tapi faktanya demikian.
“Mereka hanya peduli pada uang. Itu adalah klub yang tidak memiliki jiwa. Mereka tidak membiarkan para pemain pergi karena emir dan Al Khelaifi berpikir bahwa semuanya ‘dapat dibeli’, bahwa mereka dapat menaklukkan dunia hanya dengan uang. Tapi sudah terlihat bahwa itu tidak mungkin.” pungakasnya.











