Kisah Tragis Dibalik Nama Kampung Pecah Kulit

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Dalam sudut terpencil kota Jakarta Barat, tepatnya di Kampung Pecah Kulit, Pinangsia, Tamansari, tersembunyi sebuah sejarah yang memilukan namun penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan. Kisah yang dipendam di wilayah ini mengisahkan perjuangan dan kekejaman yang menyangkut eksekusi mati.

Segalanya bermula dari sosok bernama Pieter Erberveld, seorang tokoh yang terkenal karena hukuman mati yang dijatuhkan kepadanya oleh VOC pada tahun 1721. Ia dituduh memimpin konspirasi serta aksi-aksi kacau yang bertujuan melawan kekuasaan VOC.

- Advertisement -

Pieter Erberveld adalah keturunan Indo-Jerman-Siam yang bekerja di Batavia. Nama keluarganya mengungkapkan asal-usulnya dari Elberfeld, yang kini menjadi bagian dari kota Wuppertal di Jerman.

Ayahnya datang ke Batavia sebagai seorang penyamak kulit. Setelah dinaikkan pangkat menjadi anggota Heemraad untuk mengurus kepemilikan tanah di daerah Ancol, ia menjadi seorang tuan tanah yang kaya raya. Kekayaan ini kemudian diwariskan kepada putranya.

Versi yang dikemukakan VOC menyebutkan bahwa Erberveld bersekongkol dengan beberapa pejabat Banten di Batavia untuk membunuh orang-orang Belanda dalam sebuah perayaan. VOC juga menuduhnya bersekongkol dengan keturunan Surapati di Jawa Timur.

- Advertisement -

 

Namun, motivasi sebenarnya yang mendorong Erberveld tetap menjadi misteri. Apakah ia memang ingin membantu orang-orang Banten, yang dipimpin oleh Raden Kartadriya, merebut kembali Batavia? Ataukah ia memiliki rencana sendiri, bila Belanda telah meninggalkan wilayah tersebut, sebagai akibat kekecewaannya terhadap perlakuan yang diterimanya dari Gubernur Jenderal Johan van Hoorn yang telah mengambil alih tanahnya?

Rencana pembunuhan ini akhirnya terbongkar, karena seorang budak melapor kepada VOC. Versi lain bahkan menyebutkan bahwa Sultan Banten-lah yang mengkhawatirkan pengaruh Erberveld dan Kartadriya yang dapat mengancam kekuasaannya, sehingga ia membocorkannya kepada VOC.

Godee Molsbergen, seorang sejarawan yang mengangkat kisah ini, melihat banyak kejanggalan pada tuduhan VOC terhadap Erberveld. Namun, tuduhan tersebut tetap mengantarnya kepada hukuman mati.

 

Hukuman mati terhadap Erberveld dilaksanakan di halaman selatan Benteng Batavia, bukan di halaman Balai Kota seperti yang umumnya terjadi. Pelaksanaannya terkenal sangat kejam, di mana kedua tangan dan kaki Erberveld diikat pada kuda yang ditarik.

Akibatnya, tubuhnya terpotong-potong secara mengerikan. Tindakan sadis ini dilakukan oleh VOC dengan harapan dapat menanamkan rasa takut pada penduduk agar tidak berani lagi melawan mereka.

Tugu Peringatan Erberveld dan Pemberian Nama Kampung Pecah Kulit

Tubuh Erberveld dimakamkan di suatu sudut di Jalan Pangeran Jayakarta, yang kini menjadi bagian dari Jakarta. Di tempat itu, didirikan sebuah tugu peringatan. Tugu tersebut menampilkan tengkorak Erberveld yang ditusuk tombak, dan di bawahnya terdapat sebuah prasasti.

Ketika Jepang datang pada tahun 1942, tugu itu dihancurkan, tetapi prasasti berhasil diselamatkan. Sebuah replika kemudian dibangun untuk menggantikan tugu tersebut. Pada tahun 1985, tugu itu dipindahkan ke Museum Prasasti Jakarta, karena lokasi semula digunakan sebagai ruang pamer mobil.

Kampung yang kini dijuluki Kampung Pecah Kulit mengambil namanya konon karena kulit Erberveld yang terkelupas akibat hukuman yang mengerikan tersebut. Namun, di balik sejarah yang kelam ini, kita juga dapat menemukan nilai-nilai kemanusiaan yang penting, mengingatkan kita akan pentingnya menghormati hak asasi manusia serta menentang segala bentuk kekejaman yang melanggar martabat manusia.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Transjakarta Ubah Tiga Rute Mikrotrans

JCCNetwork.id- PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) akan memberlakukan perubahan pada tiga layanan Mikrotrans mulai Sabtu, 17 Oktober 2026. Penyesuaian tersebut mencakup rute JAK 48A, JAK...
KONTEN VIDEO
Video thumbnail
Mentan Amran Puji Tito Karnavian: Noordin M Top Saja Bisa Diselesaikan, Apalagi Mafia Kecil
08:32
Video thumbnail
Kasus Pembubaran Ibadah GKPI Rajeg Berlanjut, Aji Cahyono Jadi Tersangka #shorts #trending
02:22
Video thumbnail
KDM Ungkap Pengalaman Diteror, Rumdin Dilempari hingga Dikejar 25 Orang Berpedang
08:55
Video thumbnail
Lawan Karhutla, Prabowo Kucurkan Rp2 Miliar untuk 200 Titik Bor #shorts #trending
01:56
Video thumbnail
Lawan Karhutla, Prabowo Kucurkan Rp2 Miliar untuk 200 Titik Bor
08:46
Video thumbnail
SBY: Gagal Bertransformasi, Indonesia Emas 2045 Bisa Menjadi Ilusi #shorts #trending
01:43
Video thumbnail
SBY: Gagal Bertransformasi, Indonesia Emas 2045 Bisa Menjadi Ilusi
08:44
Video thumbnail
Kondisi Udara di Palangka Raya Mengkhawatirkan #shorts #trending
00:43
Video thumbnail
Yusril Buka Suara soal Zakat dan Pajak, Peringatkan Dampak Jika Negara Terlalu Jauh Ikut Campur
15:45
Video thumbnail
Menlu Arrmanatha Tegaskan Komitmen Indonesia Dukung Palestina Tak Pernah Berubah #shorts #trending
01:14
Video thumbnail
Gibran Dorong Pariwisata Indonesia Naik Kelas Lewat Teknologi dan Inovasi #shorts #trending
01:29
Video thumbnail
Tak Berubah, Menlu Arrmanatha Nasir Tegaskan Komitmen Indonesia Dukung Palestina
09:40
Video thumbnail
Detik-Detik DPRD Malut Desak Gubernur Sherly Evaluasi Besar-Besaran Bawahan soal Anggaran
08:06
Video thumbnail
Disambut Tawa, SBY Guyon di Unpad: Bapak Baru Sekali, Saya 10 Tahun Diunjuk Rasa
09:03
Video thumbnail
Dapat Laporan Karhutla Tinggal 639 Hektare, Begini Respons Prabowo #shorts #trending
01:32
Video thumbnail
KH Marzuki Mustamar Batal Umrah Gegara Dicekal Masuk Arab Saudi #shorts #trending
01:38
Video thumbnail
Momen Candaan SBY soal Prabowo, Rupiah dan Saham Disebut Bisa Jatuh Gara-Gara Batuk
08:44
Video thumbnail
Begini Respons Prabowo Saat Terima Laporan Karhutla Tersisa 639 Hektare
08:46
Video thumbnail
Prabowo Libatkan Profesor Untuk Atasi Kabut Asap yang Mengganggu #shorts #trending
00:44
Video thumbnail
Di Depan Prabowo, Pangdam Cerita Tantangan Petugas Karhutla: Ada Buaya dan Ular
11:48

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER