JCCNetwork.id- Konflik di wilayah Papua, Indonesia, terus berlanjut dan ikut mengiring berbagai spekulasi dan dugaan. Teranyar mengindikasikan adanya dugaan keterlibatan tentara bayaran dalam aksi pembantaian prajurit TNI oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Bumi Cendrawasih.
Kemudian ada cocokologi dari pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie dan Mardigu Wowiek terkait konflik di tanah Papua.
Kuat dugaan aksi pembantain sadis KKB diduga bersama tentara bayaran itu buntut divestasi perusahaan pertambangan raksasa, PT Freeport Indonesia, yang memiliki tambang emas dan tembaga di provinsi yang sebelumnya bernama Irian Barat dan Irian Jaya itu.
Pada kesempatan ini, Mardigu menyoroti senjata yang digunakan oleh anggota KKB yakni jenis AR-15.
Baginya, penggunaan senjata AR-15 tak bisa dipandang remeh. Bila gerombolan KKB menggunakan senjata serbu itu, maka pertanyaannya adalah siapa pelatihnya? Mengingat durasi pembiasaan penggunaan serbu mematikan itu tidak bisa berlangsung dalam waktu singkat.
Senjata AR-15 sendiri merupakan produk dari pabrik Armalite yang berlokasi di Arizona. Fakta ini mengaitkan pemikiran Mardigu dengan perusahaan pertambangan Freeport-McMoRan yang memiliki operasi tambang di Papua, juga berlokasi di sana.
Bahkan Freeport-McMoRan menjadi penyumbang pajak terbesar bagi Arizona, yang juga sebuah negara bagian di wilayah barat daya Amerika Serikat.
“AR-15 buatan Armalite pabriknya. Nah Armalitr itu pabriknya di Arizona. Nah kalau kata Arizona kepala gw langsung hemm. Karena Freeport pemiliknya adalah McMoRan. Apakah ini ada correlated,” kata Mardigu dikutip dari YouTube R66 Newlitics.
Dugaan pria yang disapa Bossman Mardigu semakin menguat tatkala adanya hubungan antara data di lapangan. Terutama soal keputusan kebijakan divestasi PT Freeport Indonesia. Di mana, Presiden Joko Widodo memerintahkan pengambilan 51% saham Freeport dan peningkatan kontrol negara terhadap sumber daya alam yang strategis.
Keputusan ini memang memiliki dampak ekonomi yang signifikan, namun berpengaruh terhadap situasi keamanan di wilayah Papua.
“Saya pikir ini enggak bercanda. Apakah ini adalah akibat sebuah kebodohan sebuah keputusan beberapa tahun lalu? Secara ekonomi mungkin benar kita mau ambil karena kita rugi. Tapi dia enggak liat dari yang lainKalau secara ekonomi aprove mungkin benar tapi dia enggak lihat dari human,” ucap Mardigu.
Tentara Bayaran Diduga Gerak Bersama KKB
Sementara itu, pengamat militer Connie Rahakundini menduga ada keterlibatan tentara bayaran dalam operasi KKB di Papua.
Mereka diduga telah terlibat dalam serangkaian operasi KKB di wilayah tersebut, termasuk beberapa prajurit elit TNI yang tewas beberapa waktu lalu.
Pasalnya, Komando Pasukan Khusus (Kopassus) memiliki reputasi yang mengesankan sebagai salah satu pasukan elit terbaik di dunia. Meskipun jumlah anggotanya relatif kecil, setiap prajurit Kopassus mampu menghadapi dan mengatasi tantangan yang luar biasa.
Pasukan ini terkenal karena latihan fisik yang intensif, keterampilan tempur yang tinggi, serta kemampuan taktis yang luar biasa. Mereka dilatih untuk beroperasi dalam berbagai kondisi medan dan situasi yang ekstrem, termasuk pertempuran guerilla, intelijen militer, pembebasan sandera, dan sabotase di belakang garis musuh.
Kopassus dianggap sangat hebat oleh banyak orang karena kemampuan luar biasa setiap prajurit untuk mengatasi jumlah musuh yang jauh lebih besar. Meskipun perbandingannya cukup mencengangkan, dengan satu prajurit Kopassus dapat menghabisi 20 orang musuh.
“Sekarang hitungan gw gini aja itu 36 orang bisa babak belur dan kalau lihat ke rumah sakit mereka itu trauma karena mlihat kesadisan yang tidak pernah terlihat dalam kehidupan mereka sebelumnya. Berarti ada 720 orang kekuatan resist kan enggak mungkin kalau enggak ada tentara bayaran,” ucap Connie.























