JCCNetwork.id– Pada hari yang dinantikan, sejumlah tokoh terkemuka dari Papua memasuki gerbang megah Istana Negara Jakarta dengan harapan besar dan tujuan mulia. Mereka adalah anggota Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua (BP3OKP), yang tiba dengan tekad kuat untuk bertemu dengan Jaleswari Pramodhawardani, Deputi V Kepala Staf Presiden.
Pertemuan ini menjadi medan perjuangan untuk mengatasi masalah menghantui warga Papua yang terperangkap dalam konflik tak terelakkan.
“Sekarang prioritas jangka pendek ini adalah masyarakat terdampak oleh konflik keamanan dan konflik sosial di daerah provinsi Papua Pegunungan, daerah Nduga dan sekitarnya,” kata Albert Yoku di Istana Kepresidenan, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (31/5).
Salah satu tokoh yang terlibat dalam BP3OKP, Albert Yoku, memberikan pernyataan menegangkan tentang tugas yang diemban oleh mereka.
Mereka fokus pada upaya memberikan penanganan dan perlindungan kepada masyarakat Papua yang terjerat dalam konflik keamanan dan sosial, terutama di wilayah Papua Pegunungan yang penuh dengan tantangan dan ketidakpastian.
Dia menjelaskan dengan sedih bahwa konflik tersebut telah melumpuhkan 16 dari 32 distrik di Nduga. Warga yang tinggal di distrik-distrik itu terpaksa mengungsi ke kota dan kabupaten sekitarnya, mencari tempat perlindungan yang terjamin.
“Penanganan kemanusiaan secara pertolongan sosial, baik kesehatan, pendidikan, maupun pakaian layak pakai atau makanan dan sebagainya supaya bisa tersedia bagi saudara-saudara yang terdampak konflik keamanan di daerah Nduga dan sekitarnya,” ucapnya.
Albert menekankan bahwa BP3OKP akan segera memulai pendataan terhadap warga yang terkena dampak konflik. Setelah itu, mereka akan menyampaikan laporan tersebut kepada Sekretariat Wakil Presiden, sebagai langkah awal dalam mengejar tindakan lebih lanjut yang diperlukan untuk memberikan solusi dan bantuan yang mendesak.



