Trump Pertimbangkan Perpanjangan Operasi Militer ke Iran

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Presiden Amerika Serikat Donald Trump diperkirakan akan mengajukan permohonan perpanjangan waktu kepada Kongres guna melanjutkan operasi militer terhadap Iran, menjelang berakhirnya batas 60 hari tanpa persetujuan legislatif.

Prediksi tersebut disampaikan oleh Earl Rasmussen dalam keterangannya kepada media Rusia, Rabu (29/4/2026). Rasmussen menilai Trump berada dalam posisi yang sulit secara politik dan militer, sehingga kemungkinan besar akan memilih meminta tambahan waktu ketimbang menarik pasukan.

- Advertisement -

“Trump berada dalam situasi tanpa pilihan menguntungkan, tetapi berusaha mencari jalan keluar. Ia kemungkinan akan meminta perpanjangan tambahan,” kata Rasmussen.

Menurutnya, tidak ada opsi yang benar-benar menguntungkan bagi Trump dalam situasi saat ini. “Ia berada dalam kondisi tanpa pilihan ideal, namun masih berupaya mencari jalan keluar. Salah satu langkah yang mungkin diambil adalah mengajukan perpanjangan,” ujar Rasmussen.

Operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran akan mencapai hari ke-60 pada 1 Mei 2026 sejak pemberitahuan resmi kepada Kongres disampaikan oleh Gedung Putih. Berdasarkan ketentuan War Powers Resolution, presiden wajib mendapatkan persetujuan Kongres apabila ingin melanjutkan operasi militer setelah periode tersebut. Jika tidak, pemerintah harus mulai menarik pasukan, dengan opsi tambahan perpanjangan maksimal 30 hari melalui pemberitahuan tertulis.

- Advertisement -

Rasmussen menilai, keputusan untuk menarik pasukan berpotensi menimbulkan dampak politik yang merugikan bagi Trump, terutama di tengah tekanan domestik. Di sisi lain, melanjutkan operasi militer juga dinilai berisiko memperburuk konflik yang sudah memanas.

“Jika Trump menarik pasukan, itu tidak akan terlihat baik secara politik. Ia mungkin akan melanjutkan ancamannya, tetapi hasilnya kemungkinan lebih buruk,” ujarnya.

Ia juga mendorong agar pemerintah AS mempertimbangkan penghentian konflik dan mengakui bahwa langkah militer terhadap Iran merupakan keputusan yang keliru. Rasmussen menambahkan, dinamika politik global, termasuk pengaruh Israel dan kelompok elite di AS, turut berpotensi memperpanjang eskalasi.

Sebelumnya, pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan militer ke wilayah Iran yang mengakibatkan kerusakan signifikan serta korban sipil. Konflik tersebut sempat mereda setelah kedua pihak menyepakati gencatan senjata selama dua pekan pada 7 April.

Namun, upaya perundingan lanjutan yang digelar di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan. Situasi kembali memanas setelah pada 13 April, Amerika Serikat memberlakukan blokade terhadap jalur pelayaran yang keluar-masuk pelabuhan Iran di sekitar Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi global.

Hingga kini, ketegangan di kawasan masih berlangsung, sementara keputusan Washington terkait kelanjutan operasi militer diperkirakan akan menjadi penentu arah konflik dalam waktu dekat.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Protes Memuncak di Samarinda Gegara Gaya Hidup dan Kebijakan Rudy Mas’ud

JCCNetwork.id- Aksi unjuk rasa mewarnai Kantor Gubernur Kalimantan Timur di Samarinda, Selasa (21/4/2026). Ratusan warga bersama mahasiswa turun ke jalan sebagai bentuk protes terhadap...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER