JCCNetwork.id-Pasar energi global dibuka dengan tekanan pada awal pekan ini, ditandai penurunan harga minyak mentah dunia seiring meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Kondisi tersebut mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan jangka pendek dan mendorong perubahan sentimen investor.
Pada perdagangan Senin (9/2/2026) pagi waktu Asia, dua acuan utama minyak global kompak melemah.
Harga minyak Brent kontrak April turun sekitar 1,2 persen ke level US$67,25 per barel, melanjutkan tren penurunan hampir 4 persen sepanjang pekan lalu.
Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret terkoreksi sekitar 1 persen ke posisi US$62,91 per barel.
Penurunan ini mencerminkan berkurangnya premi risiko geopolitik yang sebelumnya membayangi pasar.
Pelaku pasar mulai menyesuaikan posisi mereka setelah melihat perkembangan terbaru di Timur Tengah, terutama terkait hubungan Iran dan Amerika Serikat.
Sinyal positif datang dari pembicaraan kedua negara yang berlangsung di Oman.
Dialog tersebut difokuskan pada upaya meredakan ketegangan terkait program nuklir Iran.
Pemerintah Iran menyebut pertemuan itu sebagai langkah maju, yang kemudian direspons positif oleh pasar karena dinilai menekan potensi eskalasi konflik.
Meski kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan masih menjadi perhatian, arah diplomasi yang lebih terbuka dinilai lebih dominan dalam membentuk persepsi pasar.
Hal ini turut mengurangi kekhawatiran terhadap potensi gangguan distribusi minyak global.
Dari sisi kebijakan, pemerintah Amerika Serikat mengindikasikan akan melanjutkan perundingan dalam waktu dekat, sekaligus menjajaki langkah strategis lain terkait kawasan.
Di saat yang sama, rencana penerapan tarif terhadap negara yang masih menjalin kerja sama dengan Iran menambah kompleksitas dinamika geopolitik.
Sepanjang tahun berjalan, harga minyak sebenarnya sempat menguat akibat kekhawatiran kelebihan pasokan global yang diimbangi oleh gangguan suplai di beberapa wilayah, termasuk Kazakhstan.
Namun, perkembangan diplomatik terbaru menggeser fokus pasar kembali pada faktor fundamental, terutama keseimbangan antara pasokan dan permintaan.
Pelaku pasar kini cenderung lebih berhati-hati dalam membaca arah selanjutnya.
Dengan risiko konflik yang menurun, harga minyak berpotensi bergerak lebih stabil, meski tetap sensitif terhadap setiap perkembangan geopolitik baru di kawasan Timur Tengah.



