JCCNetwork.id – Fasilitas penyimpanan minyak di Pelabuhan Salalah, Oman, dilaporkan menjadi target serangan drone pada Rabu (11/3/2026) waktu setempat.
Informasi tersebut disampaikan oleh perusahaan keamanan maritim asal Inggris, Ambrey.
Dalam laporannya, Ambrey menyebutkan drone tersebut mengenai tangki bahan bakar yang berada di kawasan pelabuhan.
Meski terjadi serangan, tidak ada laporan kerusakan terhadap kapal-kapal dagang yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Sejumlah laporan lain juga menyebutkan bahwa beberapa kapal komersial yang melintasi kawasan Selat Hormuz turut terkena proyektil pada waktu yang hampir bersamaan.
Menanggapi insiden itu, Sultan Oman, Haitham bin Tariq, segera melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian.
Dalam percakapan tersebut, Sultan Haitham menyampaikan kecaman dan ketidaksetujuan terhadap serangan yang terjadi.
Ia juga menegaskan bahwa Oman tetap mempertahankan posisi netral di tengah meningkatnya ketegangan kawasan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
“Oman akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk menjaga keamanan dan stabilitasnya,” tegas Sultan Haitham.
Serangan terhadap fasilitas energi tersebut terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah.
Iran disebut menargetkan sejumlah fasilitas energi di kawasan Teluk sebagai respons atas operasi militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayahnya.
Peristiwa ini juga berlangsung tidak lama setelah Sultan Haitham menyampaikan ucapan selamat kepada Mojtaba Khamenei atas penunjukannya sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru, menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Sebelumnya, Oman dikenal berperan sebagai mediator dalam perundingan kesepakatan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat.
Namun, upaya diplomasi tersebut terhenti setelah pecahnya serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026.



