Rencana Impor 105 Ribu Pick-Up untuk Kopdes Tuai Kritik

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meminta Presiden untuk membatalkan rencana impor 105.000 unit mobil pick-up bagi operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Industri, Saleh Husin, menilai kebijakan impor dalam bentuk completely built up (CBU) berpotensi melemahkan bahkan mematikan industri otomotif nasional.

Menurutnya, langkah tersebut tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi domestik, karena nilai tambah dan efek bergandanya justru lebih besar jika produksi dilakukan di dalam negeri.

- Advertisement -

Saleh menegaskan bahwa industri otomotif nasional sebenarnya telah menyatakan kesiapan untuk memenuhi kebutuhan kendaraan program tersebut. Karena itu, Kadin mendorong pemerintah untuk memprioritaskan produk dalam negeri demi menjaga keberlangsungan industri, tenaga kerja, serta rantai pasok nasional.

Kritik terhadap rencana impor ini juga datang dari berbagai fraksi di parlemen yang menilai kebijakan tersebut perlu dikaji ulang agar tidak merugikan industri dalam negeri.

Sementara itu, Anggota Komisi VI DPR RI, Rachmat Gobel menilai, impor besar-besaran berpotensi tidak sejalan dengan cita-cita nasionalisme ekonomi. Khususnya yang diusung pemerintah melalui Astacita dan Prabowonomics.

- Advertisement -

Terpisah, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal, menyebut ribuan buruh akan menggelar demonstrasi guna menuntut impor 105.000 pikap dari India dibatalkan. KSPI merencanakan aksi itu digelar di depan Gedung DPR RI pada 4 Desember mendatang jika sejumlah tuntutan pembatalan impor pikap tidak dipenuhi.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Putusan MK Kuota 30 Persen Perempuan Butuh Komitmen Partai

JCCNetwork.id-Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mewajibkan sanksi bagi partai politik yang tidak memenuhi kuota 30 persen keterwakilan perempuan dinilai membutuhkan dukungan penuh dari partai...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER