HIMKI Desak Pemerintah Perkuat Proteksi Industri Mebel

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id-Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) meminta pemerintah memperketat proteksi pasar domestik serta mempercepat penyediaan sistem ketelusuran (traceability) demi menjaga daya saing industri mebel nasional.

Dorongan tersebut disampaikan Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur di Jakarta, Jumat, di tengah meningkatnya tekanan regulasi internasional dan derasnya arus produk impor murah.

- Advertisement -

Sobur menegaskan bahwa kebutuhan penguatan kebijakan bersifat mendesak mengingat industri mebel dan kerajinan menyerap lebih dari 2,1 juta tenaga kerja dan menjadi penopang jutaan pelaku UMKM di berbagai daerah.

Ia menilai pelaku usaha dalam negeri membutuhkan perlakuan yang adil untuk bersaing dengan negara lain yang kini menerapkan regulasi hijau ketat, termasuk European Union Deforestation Regulation (EUDR).

Menurut Sobur, pelaku industri—terutama UMKM—tidak dapat menanggung beban kepatuhan EUDR secara merata tanpa adanya diferensiasi.

- Advertisement -

‎“Kami hanya meminta kesempatan yang sama untuk bersaing di pasar global yang tidak lagi fair,” ujar Sobur

HIMKI meminta pemerintah menyediakan fasilitas sistem traceability setara standar internasional seperti Forest Stewardship Council, serta pendampingan sertifikasi, harmonisasi aturan kayu, dan pembiayaan untuk pelaku usaha.

Selain kendala regulasi, industri mebel juga menghadapi banjir produk impor berharga murah.

Sobur memperingatkan bahwa buyer global dapat meninggalkan Indonesia jika industri domestik kehilangan daya saing, bukan karena kualitas produk, tetapi karena ketidakefisienan biaya.

‎“Jika kita tidak bergerak cepat, buyer global akan meninggalkan Indonesia bukan karena kualitas kita tidak baik, tetapi karena tidak kompetitif,” kata Sobur.

HIMKI juga meminta pemerintah memperketat penegakan aturan antidumping dan memberikan tarif ekspor preferensial ke negara-negara tujuan utama.

Di sisi lain, penguatan branding Made in Indonesia dan pembentukan Center of Design Excellence dinilai penting untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai eksportir produk kreatif berbasis budaya.

Peningkatan infrastruktur logistik turut menjadi fokus rekomendasi HIMKI.

Sobur menyebut Pelabuhan Patimban dan Bandara Kertajati perlu dioptimalkan sebagai hub ekspor strategis melalui penambahan layanan ekspor-impor, integrasi konektivitas multimoda, dan insentif bagi eksportir.

‎“Desain dan kerajinan adalah DNA bangsa ini. Kita punya cerita, identitas, dan jiwa yang sudah diakui dunia,” ujarnya pula.

Ia memperkirakan ekspor industri mebel dan kerajinan bisa mencapai 6 miliar dolar AS pada 2030 jika kebijakan industri diperkuat, teknologi dan talenta ditingkatkan, serta ekspansi pasar global dipercepat.

Data Kementerian Perindustrian mencatat ekspor furnitur nasional mencapai 920 juta dolar AS pada triwulan II-2025, naik dari 910 juta dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, ekspor industri kerajinan tumbuh 9,11 persen secara tahunan menjadi 173,49 juta dolar AS pada periode yang sama.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Longsor Tutup Akses Dieng di Banjarnegara

JCCNetwork.id- Akses menuju kawasan wisata dataran tinggi Dieng dari arah Kabupaten Banjarnegara terputus total setelah terjadi longsor tebing setinggi sekitar 30 meter di Desa...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER