JCCNetwork.id- Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menegaskan bahwa upaya mengatasi tingginya biaya transportasi umum tidak semata-mata dilakukan dengan menurunkan tarif, melainkan juga melalui peningkatan pendapatan masyarakat. Langkah ini dinilai lebih berkelanjutan untuk mendorong keterjangkauan layanan transportasi di berbagai daerah.
Direktur Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda Kemenhub, Risal Wasal, menjelaskan bahwa mahal atau murahnya ongkos transportasi sangat bergantung pada daya beli masyarakat. Menurutnya, menaikkan penghasilan warga bisa membuat biaya perjalanan yang semula dianggap berat menjadi relatif ringan.
“Ada banyak cara bagaimana menganggap biaya itu murah, bukan menurunkan tarif saja, bagaimana meningkatkan pendapatan yang kita pikirkan,” kata Direktur Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Risal Wasal dalam keternagan tertulisnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pengeluaran rata-rata warga Bekasi untuk transportasi mencapai Rp 1,91 juta per bulan atau sekitar 14,02 persen dari total pendapatan. Angka ini menunjukkan bahwa rata-rata penghasilan warga Bekasi berada di kisaran Rp 13,68 juta per bulan. Risal menilai, jika pendapatan warga dapat meningkat sekitar Rp 4 juta per bulan, beban biaya transportasi tersebut tidak lagi menjadi hambatan untuk mobilitas harian.
“Tugas kami juga bagaimana mempermudah masyarakat bergerak melalui transportasi umum hingga mereka bisa melakukan sesuatu hingga mendapatkan pendapatan,” jelasnya.
Selain strategi peningkatan pendapatan, Kemenhub juga mengusulkan langkah kreatif untuk menekan ongkos transportasi, seperti memanfaatkan ruang transportasi umum untuk pemasangan iklan. Menurut Risal, pemasangan papan reklame, fasilitas virtual office, hingga showcase produk dapat memberikan pemasukan tambahan yang pada akhirnya bisa digunakan untuk subsidi tarif.
“Bukan hanya di core bisnisnya saja,” jelasnya.
Saat ini, data Kemenhub mencatat keberadaan 140,9 juta sepeda motor, 20,5 juta mobil, 6,5 juta truk dan bus, serta 117 ribu kendaraan khusus seperti traktor yang beroperasi di seluruh Indonesia.
Upaya integrasi moda transportasi juga terus dilakukan, mencakup jalur darat, laut, udara, dan kereta api. Tidak hanya di simpul transportasi seperti terminal, stasiun, pelabuhan, dan bandara, integrasi juga dilakukan di ruang pergerakan. Fasilitas yang dikelola mencakup 114 bandara, 78 lapangan terbang, 110 pelabuhan, 300 pelabuhan penyeberangan, 909 stasiun, dan 450 terminal di berbagai wilayah.
“Yang kami bisa integrasikan itu tidak hanya di simpul, tetapi di ruang. Simpul itu ada terminal, stasiun, pelabuhan, bandara. Ruang ada jalan, laut, udara, dan kereta api,” lanjutnya.



