JCCNetwork.id- Memasuki awal Mei 2025, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat peningkatan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah, terutama Kalimantan Tengah. Berdasarkan data dari Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusdalops) BNPB, hingga Sabtu (4/5), telah terjadi 38 kejadian karhutla di provinsi tersebut sejak awal tahun.
Laporan Pusdalops menyebutkan, sebanyak 180 titik panas terdeteksi di wilayah Kalimantan Tengah, dengan total luas lahan terdampak mencapai 25,46 hektare. Dua peristiwa karhutla terbaru terjadi pada Sabtu pekan lalu, masing-masing di Kabupaten Lamandau dengan luas terbakar 0,5 hektare, dan di Kabupaten Kotawaringin Barat seluas 1 hektare.
“Pemadaman telah dilakukan sejak awal kemunculan titik api dan saat ini kedua lokasi telah dinyatakan padam,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangan di Jakarta, Senin (5/5).
Menanggapi peningkatan potensi karhutla menjelang musim kemarau, BNPB mengimbau pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan, terutama di wilayah-wilayah yang tergolong rawan. Terdapat enam provinsi prioritas yang menjadi perhatian utama BNPB, yakni Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Jambi, dan Riau.
Selain itu, Kalimantan Timur juga masuk dalam pengawasan khusus BNPB. Provinsi tersebut mendapat perlakuan penanganan khusus mengingat posisinya sebagai lokasi pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara yang baru.
“Serta satu provinsi dengan penanganan khusus, yakni Kalimantan Timur (Kaltim),” tandas Abdul.
BNPB mengingatkan bahwa antisipasi dini dan koordinasi lintas sektor diperlukan untuk mencegah karhutla semakin meluas. Pemerintah daerah diminta untuk segera mengaktifkan satuan tugas kebakaran hutan dan lahan, serta meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai bahaya membuka lahan dengan cara membakar.























