JCCNetwork.id- Sebuah video kontroversial yang menampilkan pria bule bernama Maxi Andrea Mastrovalerio, yang lebih dikenal sebagai ‘Om Bule’, viral di media sosial setelah ia menyindir pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dengan sebutan “Ibu Kota Koruptor Nepotisme.”
Dalam video tersebut, Om Bule, yang mengaku terbang dari Italia, dengan nada satir mengkritik proyek pembangunan IKN dan menggambarkan kota baru ini sebagai tempat bagi praktik korupsi dan nepotisme.
“Halo, Om Bule lovers. Om Bule sudah ada di IKN, Ibu Kota Koruptor Nepotisme. Di sini kita lihat pembangunannya IKN, Ibu Kota Koruptor Nepotisme,” ucap bule tersebut dalam video yang dikutip.
Om Bule juga menyatakan bahwa lahan-lahan yang sedang dibangun di IKN akan diisi dengan hotel dan rumah mewah, sementara rakyat biasa hanya akan mendapatkan gubuk-gubuk sederhana.
“Kalian nanti akan tinggal di situ ya, nanti akan dibikin gubuk-gubuk untuk rakyat jelata,” ujarnya.
Respons terhadap video ini, Polda Kalimantan Timur telah memberikan teguran kepada Om Bule atas komentarnya yang dinilai provokatif.
“Kami mengimbau kepada yang bersangkutan untuk tidak melakukan hal serupa baik di IKN maupun tempat lain, meskipun hal tersebut merupakan pendapat atau penilaian,” ujar Kabid Humas Polda Kaltim Kombes Artanto, dikutip Kamis (13/6/2024).
Tambahan informasi, Maxi Andrea Mastrovalerio, yang dikenal sebagai Om Bule, adalah seorang kreator konten di TikTok dengan lebih dari 200 ribu pengikut dan hampir 65 ribu pengikut di Instagram. Kontennya sering berisi kritik tajam terhadap kebijakan pemerintah dan isu-isu sosial terkini. Berdasarkan profil Facebook-nya, yang memiliki 4,5 ribu pengikut, Om Bule tinggal di Bogor, Jawa Barat, dan merupakan warga negara Indonesia meskipun lahir di Italia.
Om Bule bukanlah sosok baru dalam kontroversi media sosial. Sebelumnya, ia juga menarik perhatian publik ketika membela Bunda Corla dalam perselisihan dengan Nikita Mirzani terkait tuduhan tunggakan pajak di Jerman.
Insiden ini menambah catatan panjang aktivitas Om Bule di media sosial, yang kerap menimbulkan perdebatan dan reaksi keras dari publik. Sementara beberapa mendukung keberaniannya menyuarakan kritik, banyak pula yang menganggap caranya tidak pantas dan menimbulkan provokasi.







