Haji Isam Bidik Saham Bayan Resources

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id-Pengusaha nasional Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam dikabarkan tertarik mengakuisisi 62,2 persen saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN), perusahaan tambang batu bara yang dikendalikan Low Tuck Kwong.

Minat tersebut menempatkan Bayan Resources sebagai salah satu aset strategis di sektor batu bara yang berpotensi berpindah tangan.

- Advertisement -

Haji Isam sendiri dikenal membangun bisnisnya melalui industri pertambangan batu bara.

Bayan Resources merupakan salah satu perusahaan batu bara dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia.

Data Stockbit hingga Mei 2026 menunjukkan kapitalisasi pasar BYAN mencapai sekitar Rp333 triliun, tertinggi di antara 91 emiten sektor energi yang tercatat di BEI.

- Advertisement -

Besarnya nilai perusahaan tersebut turut menopang kekayaan Low Tuck Kwong.

Dalam daftar Forbes Billionaires List yang diterbitkan pada awal Agustus 2026, kekayaan Low Tuck Kwong tercatat sekitar US$16,8 miliar atau setara Rp302 triliun.

Angka tersebut menempatkannya sebagai orang terkaya di Indonesia dan peringkat ke-168 dunia.

Berawal dari Akuisisi Tambang
Perjalanan bisnis Low Tuck Kwong di industri batu bara dimulai ketika dia mengakuisisi PT Gunung Bayan Pratamacoal pada November 1997.

Perusahaan tersebut mengoperasikan tambang batu bara di Muara Tae, Kalimantan Timur.

Sebelumnya, Low Tuck Kwong telah membangun bisnis melalui PT Jaya Sumpiles Indonesia (JSI), perusahaan yang didirikan pada 1973 dan bergerak di bidang konstruksi tanah, pekerjaan umum, serta struktur kelautan.

JSI kemudian masuk ke sektor batu bara pada 1988.

Bisnis tersebut berkembang hingga perusahaan menjadi salah satu kontraktor pertambangan terkemuka pada akhir 1990-an.

Ekspansi Low Tuck Kwong berlanjut pada 1998 melalui akuisisi PT Dermaga Perkasapratama.

Perusahaan tersebut mengoperasikan Balikpapan Coal Terminal dengan kapasitas sekitar 2,5 juta metrik ton per tahun.

Pada 2004, Low Tuck Kwong mendirikan Bayan Resources sebagai perusahaan yang menaungi sejumlah bisnis batu baranya di Indonesia.

Pertumbuhan perusahaan kemudian ditopang ekspansi tambang dan pembangunan infrastruktur pendukung.

Salah satu penggerak utama produksi Bayan adalah tambang Tabang.

Produksi batu bara dari tambang tersebut meningkat dari sekitar 1,9 juta ton pada 2014 menjadi 22,7 juta ton pada 2018.

Bayan Resources kemudian mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada 12 Agustus 2008 dengan kode BYAN.

Saat penawaran umum perdana atau IPO, saham perseroan ditawarkan Rp5.800 per saham dan berhasil menghimpun dana sekitar Rp4,83 triliun.

Pada perdagangan 17 Agustus 2026, saham BYAN berada di level Rp14.400 per saham.

Sebagian Saham Dialihkan kepada Putri
Struktur kepemilikan Bayan Resources berubah pada 28 Agustus 2024.

Saat itu, Low Tuck Kwong menghibahkan sekitar 22 persen saham BYAN kepada putrinya, Elaine Low.

Jumlah saham yang dialihkan mencapai 7.333.333.700 lembar.

Setelah transaksi tersebut, kepemilikan Low Tuck Kwong turun dari 20.716.816.570 saham menjadi 13.383.482.870 saham.

Porsi kepemilikannya berubah dari 62,15045 persen menjadi 40,15045 persen.

Elaine Low merupakan putri bungsu Low Tuck Kwong dan May Lee Fan.

Dia meraih gelar Magister Kebijakan Publik dari Lee Kuan Yew School of Public Policy, National University of Singapore, pada 2014.

Elaine kemudian terlibat dalam pengelolaan sejumlah bisnis keluarga.

Di antaranya The Farrer Park Company yang menaungi Farrer Park Hospital dan One Farrer Hotel.

Dia juga tercatat sebagai direktur Seax, perusahaan penyedia infrastruktur jaringan kabel bawah laut di Asia Tenggara.

Laba Bayan Naik 16,8 Persen
Di tengah isu akuisisi, kinerja keuangan Bayan Resources menunjukkan pertumbuhan pada semester I 2026.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, laba bersih BYAN mencapai US$416,56 juta atau sekitar Rp7,3 triliun dengan asumsi kurs Rp17.500 per dolar AS.

Angka tersebut meningkat 16,8 persen dibandingkan US$349,24 juta pada semester I 2025.

Pertumbuhan laba ditopang kenaikan pendapatan dari penjualan batu bara.

Pada semester I 2026, pendapatan tersebut mencapai US$1,74 miliar atau sekitar Rp30,45 triliun, naik 7,29 persen dibandingkan US$1,62 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Laba bruto perseroan juga meningkat menjadi US$615,58 juta atau sekitar Rp10,8 triliun.

Dari sisi neraca, total aset BYAN per 30 Juni 2026 mencapai US$3,78 miliar atau sekitar Rp66,15 triliun.

Nilai tersebut meningkat 12 persen dibandingkan posisi akhir Desember 2025 sebesar US$3,37 miliar.

Namun, kenaikan aset tersebut diikuti lonjakan liabilitas.

Per 30 Juni 2026, total liabilitas Bayan Resources mencapai US$1,19 miliar atau sekitar Rp20,8 triliun, naik sekitar 75 persen dari US$680,46 juta pada akhir 2025.

Kenaikan tersebut antara lain berkaitan dengan kewajiban pembayaran dividen sebesar US$500 juta yang telah dibayarkan pada Juni 2026.

Dengan kapitalisasi pasar yang besar serta pertumbuhan laba pada semester pertama tahun ini, Bayan Resources tetap menjadi salah satu pemain utama industri batu bara nasional.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat kepemilikan saham BYAN memiliki nilai strategis di tengah isu ketertarikan Haji Isam untuk mengambil alih saham perusahaan.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Wapres Gibran Kukuhkan 76 Anggota Paskibraka untuk Upacara HUT ke-81 RI

JCCNetwork.id — Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka mengukuhkan 76 anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) yang akan bertugas dalam rangkaian upacara peringatan...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER