JCCNetwork.id-Menurut proyeksi penduduk Indonesia dari tahun 2015 hingga 2045, didasarkan pada data Survei Penduduk Antarsensus (Supas) 2025, periode bonus demografi diperkirakan berlangsung hingga tahun 2036.
Namun, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memperkirakan bonus demografi bisa bertahan hingga tahun 2041, berdasarkan data Sensus Penduduk 2020.
Artinya, Indonesia memiliki sekitar 17 tahun tersisa untuk mempersiapkan generasi baru, terutama Generasi Z dan Generasi Alpha, agar dapat menjadi generasi yang berkualitas dan menjelang Tahun Emas Indonesia 2045.
Bonus demografi menjadi modal penting bagi Indonesia untuk mencapai status negara maju.
Periode ini terjadi ketika mayoritas penduduk berada dalam kelompok usia produktif, yang dapat membuka peluang besar dalam meraih pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Namun, keberhasilan bonus demografi tidak hanya tergantung pada jumlah penduduk usia produktif, tetapi juga pada kesehatan dan kecerdasan mereka.
Kesehatan dan kecerdasan yang optimal pada kelompok usia produktif akan memberikan dampak positif dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia dan indeks pembangunan manusia.
Sebaliknya, masalah kesehatan dan rendahnya tingkat kecerdasan dapat berujung pada bencana, yang akan menambah beban negara.
Untuk mengoptimalkan bonus demografi, semua sektor dan lapisan masyarakat perlu aktif berkontribusi dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
Investasi dalam pembangunan kesehatan, terutama
dalam hal gizi, menjadi krusial dalam meningkatkan kesehatan, pendidikan, dan produktivitas ekonomi.
Investasi gizi dapat membantu memutus lingkaran kemiskinan dan meningkatkan PDB negara.
Selain itu, Indonesia juga perlu menghadapi tantangan dalam ketahanan pangan.
Diversifikasi sumber karbohidrat menjadi salah satu terobosan yang diperlukan untuk mengatasi masalah ketergantungan pada beras.
Berbagai sumber karbohidrat lokal, seperti singkong, jagung, ubi jalar, dan sorgum, perlu diperhatikan sebagai alternatif mudah tumbuh dan dibudidayakan di Indonesia.
Dalam menghadapi perubahan iklim, pemilihan tanaman yang memiliki daya tahan kuat menjadi penting.
Sorgum menjadi salah satu pilihan yang dapat memenuhi kebutuhan karbohidrat dengan nutrisi yang baik dan daya tahan terhadap perubahan iklim.
Selain itu, kembali ke ragam pangan lokal, terutama umbi-umbian dan sagu-saguan, menjadi langkah penting dalam menghadapi krisis iklim saat ini.
Secara keseluruhan, Indonesia perlu mengambil langkah-langkah strategis dalam memanfaatkan bonus demografi dan menghadapi tantangan dalam ketahanan pangan.
Dengan kolaborasi semua pihak dan implementasi kebijakan yang tepat, Indonesia dapat mengoptimalkan potensi bonus demografi dan mencapai tujuan menjadi negara maju pada tahun 2045.



