JCCNetwork.id- Dalam pernyataan di Sidang ke-78 Majelis Umum PBB, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengungkapkan keyakinannya bahwa Israel dan Arab Saudi akan segera mencapai kesepakatan perdamaian yang penting.
Kesepakatan ini diharapkan akan mengakhiri konflik yang telah berlangsung lama antara Arab-Israel dan juga mendorong negara-negara Arab lainnya untuk menormalisasi hubungan mereka dengan Israel.
“Perdamaian seperti itu akan sangat membantu dalam mengakhiri konflik Arab-Israel dan mendorong negara-negara Arab lainnya untuk menormalisasi hubungan dengan Israel,” kata Benjamin dalam Sidang ke-78 Majelis Umum PBB dalam laman PBB, dikutip.
Netanyahu memandang kesepakatan ini sebagai sebuah langkah positif yang dapat meningkatkan prospek perdamaian antara Israel dan Palestina.
Dia menekankan bahwa kesepakatan tersebut tidak hanya akan memperkuat hubungan antara Yahudi dan Islam, tetapi juga akan membuka jalan bagi rekonsiliasi antara Yerusalem dan Mekah, antara keturunan Ishak dan keturunan Ismail.
Lebih lanjut, Perdana Menteri Israel menyampaikan keyakinannya bahwa kesepakatan perdamaian antara Israel dan Arab Saudi akan menciptakan kawasan Timur Tengah yang lebih damai dan stabil.
Ini juga akan memungkinkan Israel untuk memperluas hubungan diplomatiknya dengan negara-negara Arab dan Muslim lainnya, membuka jalan bagi perdamaian sejati antara Israel dan Palestina.
Namun, Netanyahu juga menekankan pentingnya Presiden Palestina Mahmoud Abbas untuk menghentikan penyebaran konspirasi antisemitisme, yang merupakan sikap bermusuhan terhadap kaum Yahudi. Ini adalah langkah penting dalam mendukung upaya perdamaian di kawasan tersebut.
Seiring dengan upaya normalisasi hubungan antara Israel dan Arab Saudi, Pemerintah Kerajaan Saudi telah menekankan bahwa setiap kesepakatan terkait dengan hubungan diplomatik dengan Israel harus selalu diiringi dengan upaya pembentukan Negara Palestina. Hal ini menekankan pentingnya penyelesaian konflik Israel-Palestina dalam konteks perdamaian regional.
Sebagai catatan, beberapa negara Arab telah mendekati normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel, seperti Uni Emirat Arab, Sudan, Bahrain, dan Maroko. Ini mencerminkan perubahan dinamika politik di kawasan Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir.



