Risiko Sudah di Depan Mata Apa Strategi Kilat Lawan Kekeringan?

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id– Risiko kekeringan yang melanda Indonesia pada Juli hingga September 2023 membawa dampak kekeringan yang sangat tinggi bagi persawahan yang ada di tanah air. Hal tersebut disampaikan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo.

“Untuk periode Juli-September 2023, prediksi luar risiko kekeringan untuk komoditas pada sawah di Indonesia berada pada kisaran antara rendah dan sedang,” ujar Yasin, Rabu (30/8/2023).

- Advertisement -

Maka itu Mentan menyampaikan, pihaknya bakal mengadakan 500 ribu lahan untuk difungsikan sebagai penanaman baru di daerah-daerah yang mempunyai produktif dan kontribusi yang signifikan. Namun maksud ini bukan diartikan sebagai penanaman ulang.

“Itulah yang membuat kita harus membuat 500 ribu ha (lahan) penanaman baru, bukan lahan baru. Harus dilakukan dari daerah-daerah produktif dan berkontribusi bagus,” tuturnya.

Yasin menjelaskan, Pada tahun ini, daerah-daerah yang telah diurutkan mengalami lonjakan aktivitas ekonomi dari bulan Januari hingga Desember. Terutama pada bulan Oktober, November, dan Desember, ketika pertumbuhan ekonomi tercatat signifikan.

- Advertisement -

Namun, prestasi ini sedikit terhalang oleh fakta bahwa terdapat carry over sebanyak 4 juta ton dari bulan Mei hingga Juli.

“Januari sampai Desember ada daerah sorted memang pada Oktober November Desember, tapi tertutupi dengan carrry over 4 juta ton waktu Mei-Juli,” pungkasnya.

Sementara itu melalui informasi Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Pengujian Standar Instrumen Sumber Daya Lahan Pertanian (BBPSI SDLP) memperkirakan bahaya kekeringan kategori sedang secara nasional pada Juli mencapai 235.559 ha atau 3,35 persen terhadap total risiko kekeringan.

Sedangkan pada Agustus terdapat prediksi kekeringan dengan total lahan sebanyak 3,41 persen atau 258.123 ha. Sedangkan pada September menurun menjadi 96.128 ha atau 1,27 persen terhadap total risiko kekeringan.

Sehingga potensi defisit produksi dan konsumsi pada Juli hingga September pun diprediksi berkisar antara 0,10-01,7 juta ton beras. Namun, kekurangan produksi padi pada Semester bisa ditutupi dengan panen padi yang tercatat surplus sejak Februari hingga Juni.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

BMKG Peringatkan Gelombang Tinggi di Sultra

JCCNetwork.id- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi gelombang tinggi yang diperkirakan melanda sejumlah wilayah perairan di Provinsi Sulawesi Tenggara...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER