Kampung Ciptagelar, Menjaga Kearifan Lokal Memegang Adat Leluhur

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id – Kasepuhan Adat Ciptagelar merupakan salah satu kampung adat  masuk dalam kesatuan adat Banten Kidul. Kasepuhan Adat Ciptagelar masih memegang kuat adat dan tradisi diturunkan sejak 640 tahun lalu.

Kasepuhan Ciptagelar dipimpin oleh seorang tetua adat disebut abah diangkat berdasarkan keturunan. Sampai saat ini Kasepuhan Adat Ciptagelar di pimpin oleh abah ke-9 sejak tercatat kasepuhan tahun 1368.

- Advertisement -

Masyarakat Banten Kidul adalah masyarakat mendiami kawasan Taman Nasional Gunung Halimun yang tersebar meliputi 3 kabupaten, yaitu Lebak, Bogor dan Sukabumi.

Kasepuhan Ciptagelar masih memiliki keterikatan dengan kerajaan sunda Prabu Siliwangi. Kampung adat  mempunyai ciri khas bentuk rumah serta tradisi masih dipegang kuat oleh masyarakat setempat.

Istilah kasepuhan berasal dari kata sepuh dengan awalan ka dan akhiran an, dalam bahasa sunda kata sepuh berati ˮKolotˮ atau ˮTuaˮ, Kata Kasepuhan juga mengacu pada golongan masyarakat masih hidup dan bertingkah laku sesuai aturan adat istiadat lama.

- Advertisement -

Tahun 1960-an Kampung Kasepuhan Ciptagelar mempunyai nama khusus yang dapat dianggap sebagai nama asli masyarakat tersebut, yaitu perbu namun nama perbu diganti menjadi kasepuhan atau kesatuan.

Sejak tahun 2001 sekitar bulan juli kampung ciptarasa yang berasal dari Desa Sirnarasa melakukan hijrah wangsit ke Desa Sinaresmi, di Desa Sukamulya Abah Anom sebagai pemimpin kampung adat memberi nama Cipta Gelar yang artinya terbuka atau pasrah.

Kepindahan Kampung Ciptarasa ke Ciptagelar ini atas perintah leluhur yang di sebut wangsit, wangsit yang diterima Abah Anom melalui proses ritual hasilnya harus dilaksanakan.

Tahun 2002 Abah Anom sebagai pemimpin menerima wangsit dari leluhur untuk pindah dari Ciptarasa ke Ciptagelar Oleh karena itulah perpindahan kampung adat merupakan kesetiaan dan kepatuhan leluhur.

Setiap tahunnya, masyarakat Kasepuhan Ciptagelar merayakan ritual adat tahunan yang disebut Seren Taun, yaitu upacara syukur kepada Tuhan maha kuasa atas berkah panen melimpah serta menandai awal tahun pertanian dalam tradisi Sunda.

Pada saat seren taun itulah banyak wisatan lokal maupun wisatawan mancanegara berbondong-bondong menuju kampung Ciptagelar untuk menikmati helaran atau pagelaran wisata budaya, wisata alam dan wisata sejarah komunitas bermukim sejak berabad-abad silam pegunungan Halimun.

Selain itu, banyak kebudayan dan perilaku kearifan lokal lainnya selain seren taun masyarakat kasepuhan Ciptagelar ini memiliki magnet kuat daya tarik wisata.

(Mira Chairunnisa)

 

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Jukir Liar Cengkareng Ditertibkan, Tujuh Orang Diamankan

JCCNetwork.id-Aksi juru parkir liar kembali memicu keresahan di kawasan exit tol menuju lampu merah Cengkareng dari arah Kembangan, Jakarta Barat. Keluhan publik mencuat setelah beredarnya...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER