JCCNetwork.id – Pemerhati Jawa Tengah sekaligus Sekjen Pasbata Budiyanto Hadinagoro menekankan pengembangan potensi energi panas bumi atau geotermal di wilayah Gunung Ungaran sejatinya merupakan langkah strategis yang sangat penting guna menjamin keberlangsungan pasokan energi bersih, andal, dan berkelanjutan bagi masyarakat Jawa Tengah dan sekitarnya.
Sebagai sumber energi terbarukan, energi panas bumi memiliki keunggulan berupa emisi karbon yang sangat rendah, ketersediaan yang terus berkelanjutan, serta tidak bergantung pada fluktuasi harga bahan bakar minyak dan gas bumi yang semakin menipis.
“Jadi perlu dipahami bahwa mengembangkan energi panas bumi itu ibarat mengambil buah dari pohon yang terus berbuah sepanjang masa, bukan menebang pohonnya hingga gundul. Kita mengambil manfaatnya, namun induk alamnya tetap utuh dan terus memberi manfaat bagi kelangsungan hidup manusia,” ungkap Budiyanto, saat menanggapi adanya kekhawatiran warga terhadap rencana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran, Kamis (3/9/2026).
Selain manfaat utama di bidang ketahanan energi, lanjut Budiyanto kehadiran proyek geotermal Gunung Ungaran juga dirancang untuk selaras dengan prinsip pelestarian lingkungan.
Justru dengan beralih ke energi bersih, tekanan terhadap kerusakan alam akibat eksploitasi bahan bakar fosil dapat dikurangi secara signifikan. Proyek ini juga membuka peluang pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja bagi warga sekitar, serta pengembangan potensi pariwisata dan usaha produktif yang dapat berjalan berdampingan secara harmonis dengan kelestarian alam.
“Warga jangan terpancing isu-isu yang hanya menimbulkan keresahan tanpa didasari data dan fakta yang akurat. Energi geotermal justru hadir untuk menjaga lingkungan tetap lestari bagi generasi mendatang, bukan merusaknya,” ucapnya.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk senantiasa memperoleh informasi terkait proyek ini melalui saluran-saluran resmi pemerintah maupun pengelola proyek yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
“Percayalah pada proses yang diawasi para ahli, bukan pada kabar yang disebarkan tanpa bukti. Ibarat orang sakit berobat ke dukun tanpa ilmu lalu menuduh dokter merusak tubuh. Jangan sampai kita menolak kebaikan karena ketakutan yang dibuat-buat,” tutup Budiyanto.























