Yusril Telusuri Rekrutmen 8 WNI ke Militer Rusia

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Pemerintah mengingatkan masyarakat Indonesia agar tidak sembarangan menerima tawaran pekerjaan di luar negeri, terutama apabila negara tujuan sedang berada dalam situasi konflik bersenjata. Tawaran dengan iming-iming gaji tinggi dinilai perlu diperiksa secara menyeluruh sebelum seseorang memutuskan berangkat.

Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra mengatakan masyarakat harus memastikan sejumlah informasi penting sebelum menerima pekerjaan di luar negeri. Hal itu mencakup identitas pihak yang merekrut, jenis pekerjaan, perusahaan atau institusi pemberi kerja, hingga lokasi penempatan.

- Advertisement -

Yusril menilai tawaran pekerjaan yang tidak memberikan informasi secara jelas berpotensi menimbulkan persoalan di kemudian hari. Karena itu, masyarakat diminta tidak hanya mempertimbangkan besaran penghasilan yang ditawarkan.

“Jangan mudah tergiur tawaran pekerjaan dengan penghasilan tinggi tanpa mengetahui secara jelas siapa pemberi kerja, apa pekerjaannya, dan di mana mereka akan ditempatkan,” kata Yusril dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Rabu (2/9/2026).

Menurut Yusril, kewaspadaan harus semakin ditingkatkan apabila pekerjaan tersebut memiliki hubungan dengan aktivitas militer, keamanan, ataupun wilayah yang sedang mengalami konflik bersenjata.

- Advertisement -

Peringatan itu disampaikan menyusul informasi mengenai delapan warga negara Indonesia (WNI) yang diduga awalnya direkrut melalui tawaran pekerjaan, tetapi kemudian diarahkan untuk mengikuti dinas militer Rusia.

Pemerintah kini perlu menelusuri proses perekrutan terhadap delapan WNI tersebut. Penelusuran dilakukan untuk mengetahui sejak awal bagaimana mereka mendapatkan tawaran pekerjaan dan pihak yang berada di balik proses perekrutan.

Yusril mengatakan pemerintah juga perlu memastikan apakah sejak awal para WNI tersebut mengetahui bahwa pekerjaan yang ditawarkan memiliki kaitan dengan dinas militer asing.

“Kita perlu mengetahui siapa yang merekrut, bagaimana mereka direkrut, apa yang dijanjikan, dan apakah sejak awal mereka mengetahui bahwa mereka akan ditempatkan dalam dinas militer,” ujarnya.

Pemerintah Telusuri Status Delapan WNI
Menurut Yusril, fakta mengenai posisi delapan WNI tersebut harus dipastikan terlebih dahulu. Pemerintah perlu membedakan antara warga negara yang secara sadar memilih bergabung dengan militer asing dan warga negara yang kemungkinan menjadi korban perekrutan atau eksploitasi.

Perbedaan tersebut penting karena berkaitan dengan langkah pemerintah selanjutnya, termasuk aspek perlindungan WNI dan penegakan hukum.

Pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri bersama kementerian serta lembaga terkait disebut terus melakukan koordinasi untuk mendapatkan informasi mengenai keberadaan dan kondisi delapan WNI tersebut.

Yusril menegaskan pemerintah memiliki kewajiban untuk memberikan perlindungan kepada setiap WNI. Namun, perlindungan tersebut harus berjalan bersamaan dengan penegakan hukum apabila ditemukan adanya pelanggaran.

“Kita akan pastikan dahulu faktanya. Negara berkepentingan melindungi warga negaranya, tetapi pada saat yang sama kita juga harus menegakkan hukum. Jadi dua-duanya harus berjalan,” katanya.

Ia menekankan pemerintah tidak ingin mengambil kesimpulan sebelum memperoleh informasi yang lengkap mengenai kasus tersebut. Pemeriksaan terhadap pola perekrutan menjadi salah satu bagian penting untuk menentukan langkah yang dapat ditempuh.

Bukan Kasus Pertama
Yusril menyebut persoalan WNI yang bergabung dengan militer negara asing bukan merupakan kasus yang baru pertama kali dihadapi pemerintah Indonesia.

Sebelumnya, pemerintah menangani kasus Satria Arta Kumbara, mantan anggota Korps Marinir TNI Angkatan Laut yang bergabung dengan militer Rusia dan terlibat dalam perang Rusia-Ukraina.

Satria kemudian menyampaikan keinginannya untuk kembali ke Indonesia. Pemerintah pada saat itu menyatakan dapat memfasilitasi kepulangannya selama status kewarganegaraan yang bersangkutan masih sebagai WNI.

Selain itu, nama Muhammad Rio, mantan anggota Brimob Polda Aceh, juga pernah diberitakan terkait dengan keterlibatan dalam militer Rusia.

Pengalaman dari kasus-kasus sebelumnya menjadi salah satu pertimbangan pemerintah dalam menangani persoalan delapan WNI tersebut. Pemerintah harus melihat perkara itu tidak hanya dari sisi kewarganegaraan, tetapi juga aspek perlindungan WNI dan kemungkinan adanya proses perekrutan yang bermasalah.

Yusril mengatakan pemerintah akan menangani kasus delapan WNI secara serius. Namun, seluruh langkah harus didasarkan pada fakta yang telah diverifikasi agar keputusan yang diambil tidak keliru.

“Kasus seperti ini pernah kita hadapi sebelumnya. Karena itu pemerintah akan melihat kasus delapan WNI ini secara serius, tetapi tetap dengan prinsip kehati-hatian. Kita harus mengetahui lebih dahulu fakta yang sebenarnya sebelum menentukan tindakan hukum terhadap mereka,” katanya.

Pemerintah juga mengingatkan masyarakat agar melakukan pemeriksaan secara menyeluruh sebelum menerima pekerjaan di luar negeri. Tawaran yang tidak jelas mengenai pemberi kerja, tugas, maupun lokasi penempatan perlu diwaspadai, terlebih jika mengarah ke wilayah konflik atau kegiatan yang berkaitan dengan militer.

Kasus delapan WNI yang diduga diarahkan mengikuti dinas militer Rusia kini menjadi perhatian pemerintah. Penelusuran mengenai proses perekrutan, bentuk pekerjaan yang dijanjikan, serta kesadaran para WNI terhadap tujuan akhir penempatan menjadi bagian penting untuk menentukan langkah selanjutnya.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Pemerintah Optimalkan OMC Padamkan Karhutla Kalteng

JCCNetwork.id- Pemerintah memperkuat upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) melalui optimalisasi operasi modifikasi cuaca (OMC), pengerahan helikopter pemadam, serta...
KONTEN VIDEO
Video thumbnail
Tukang Sumur Adukan 9 Hakim MK ke MKMK, Minta Diberi Sanksi Imbas Sidang Ijazah Gibran
10:10
Video thumbnail
Maruli Terima Tugas BNPPDT dari Tito, Ini Barisan Jenderal TNI-Polri yang Diperkenalkan
12:42
Video thumbnail
Menko Polkam Ungkap 97 Perusahaan Terindikasi Terkait Karhutla #shorts #trending
01:11
Video thumbnail
Menko Polkam Beberkan 97 Perusahaan Terkait Karhutla Sebut Sudah Diproses Hukum
08:52
Video thumbnail
Malaysia Ajak ASEAN Protes Indonesia soal Kabut Asap, Begini Respons Pemerintah
09:38
Video thumbnail
Kenapa Karhutla Belum Jadi Bencana Nasional? Ini Penjelasan Menko Polkam #shorts #trending
00:49
Video thumbnail
Kenapa Karhutla Belum Jadi Bencana Nasional? Ini Penjelasan Menko Polkam
09:15
Video thumbnail
Karhutla Disorot Malaysia, Ini Kata Tito #shorts #trending
01:48
Video thumbnail
Momen Haru Mentan Amran Peluk Mahasiswa Anak Yatim, Ternyata Punya Kerjaan Sampingan #shorts
01:33
Video thumbnail
Menko Polkam Sampaikan Situasi Terkini, Begini Kondisi Keamanan Indonesia
17:39
Video thumbnail
Bikin Haru! Mentan Amran Peluk Mahasiswa S2 Anak Yatim, Beri Dukungan Penuh
09:50
Video thumbnail
Momen Jenderal Maruli Resmi Emban Tanggung Jawab Kepala BNPPDT
08:17
Video thumbnail
KPK Beberkan Peran Eks Kepala BNPB dalam Kasus Dana Bencana
18:52
Video thumbnail
Momen Prabowo Sambut Sekjen PBB António Guterres di Hambalang
01:34
Video thumbnail
Blak-blakan Bahlil Ungkap Keimanan Ketua Umum PIKI Sekaligus Menteri Ara Naik Tiga Derajat
09:27
Video thumbnail
Aturan Prajurit TNI Diadili di Peradilan Militer Berubah Ada Batas Waktu 2 Tahun untuk Berbenah
10:03
Video thumbnail
JPPI: Program MBG Harus Jadi Penggerak Ekonomi Lokal, Petani hingga Peternak Wajib Diberdayakan
09:32
Video thumbnail
Nusron Wahid Dua Kali Tak Hadir Pemeriksaan KPK, Bakal Dijemput Paksa? Ini Kata KPK
09:14
Video thumbnail
JPPI Minta Keamanan Pangan MBG Diperketat, Evaluasi Dapur SPPG Harus Rutin #shorts #trending
01:52
Video thumbnail
Keamanan MBG Tak Bisa Ditawar, JPPI Minta Dapur SPPG Wajib Dievaluasi Tiap Bulan
08:53

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER