JCCNetwork.id- Pemerintah memperkuat langkah pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi dengan menempatkan wilayah tersebut sebagai salah satu prioritas pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan Jambi masih menghadapi ancaman karhutla yang perlu ditangani secara cepat. Provinsi tersebut tercatat berada di urutan keenam secara nasional dalam jumlah titik panas atau hotspot.
Kondisi itu membuat pemerintah belum mengurangi kewaspadaan terhadap potensi meluasnya kebakaran, terutama karena wilayah Jambi masih menghadapi periode kemarau.
Data pemantauan menunjukkan jumlah hotspot di Jambi masih berada di bawah sejumlah provinsi lain yang juga menjadi perhatian pemerintah, termasuk Riau dan Sumatera Selatan serta beberapa wilayah di Kalimantan.
Namun, posisi tersebut tidak membuat pemerintah menganggap ancaman karhutla di Jambi telah terkendali. Faktor cuaca dan kondisi lahan yang relatif kering selama musim kemarau dinilai dapat mempercepat penyebaran api apabila tidak segera ditangani.
Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), periode puncak musim kemarau di Jambi masih berlangsung. Pemerintah daerah bersama aparat dan instansi terkait karena itu diminta mempertahankan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan munculnya titik api baru.
Kementerian Kehutanan akan memberikan dukungan terhadap pelaksanaan OMC di Jambi yang dijadwalkan berlangsung pada 27-30 Agustus 2026. Operasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan potensi hujan di wilayah yang membutuhkan, terutama kawasan yang terindikasi memiliki risiko kebakaran.
Pelaksanaan OMC menjadi bagian dari langkah penanganan karhutla melalui pendekatan pencegahan. Upaya tersebut dilakukan bersamaan dengan pemantauan titik panas dan penanganan langsung terhadap lokasi kebakaran yang masih ditemukan.
Komandan Korem 042/Garuda Putih (Gapu) Brigjen TNI Nyamin melaporkan, kebakaran yang terjadi di sejumlah wilayah Jambi hingga kini telah menghanguskan lahan dengan total luasan lebih dari 916 hektare.
Angka tersebut menunjukkan penanganan karhutla masih membutuhkan koordinasi lintas sektor. Aparat di lapangan terus melakukan pemantauan terhadap wilayah yang memiliki potensi munculnya api.
Sejumlah titik panas masih terdeteksi di beberapa kawasan. Di antaranya Desa Lubuk Kepayang di Kabupaten Sarolangun, Pandan Timur dan Geragai di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, serta Sungai Gelam di Kabupaten Muaro Jambi.
Keberadaan titik panas di sejumlah lokasi tersebut menjadi perhatian karena dapat berkembang menjadi kebakaran terbuka apabila kondisi cuaca tetap kering dan tidak segera ditangani.
Pemerintah bersama aparat penegak hukum, pemerintah daerah, serta unsur penanggulangan bencana juga terus melakukan pemantauan terhadap wilayah rawan. Langkah ini diperlukan untuk memastikan setiap indikasi kebakaran dapat segera ditindaklanjuti sebelum meluas.
Dengan pelaksanaan OMC pada akhir Agustus, pemerintah berharap kondisi cuaca dapat membantu menekan risiko kebakaran dan mempercepat penurunan jumlah hotspot di Jambi.
Penanganan karhutla di provinsi tersebut diperkirakan tetap menjadi perhatian selama puncak musim kemarau belum berakhir. Pemantauan lapangan dan respons cepat terhadap titik api menjadi bagian penting untuk mencegah kebakaran meluas ke kawasan hutan, lahan perkebunan, maupun permukiman warga.



