BMKG Waspadai Ancaman El Nino 2026

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi meningkatnya risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia seiring kemungkinan berkembangnya fenomena El Nino pada paruh kedua 2026. Peluang kemunculan fenomena tersebut diperkirakan mencapai 50 hingga 80 persen dengan intensitas lemah hingga moderat.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan bahwa kondisi iklim global saat ini masih berada dalam fase netral pada siklus El Nino Southern Oscillation. Meski demikian, sejumlah indikator menunjukkan adanya kecenderungan penguatan menuju El Nino yang perlu diantisipasi sejak dini karena berpotensi memperparah musim kemarau.

- Advertisement -

Menurut BMKG, hasil analisis klimatologi menunjukkan musim kemarau tahun ini berpotensi datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Secara umum, tingkat curah hujan sepanjang 2026 juga diprediksi lebih rendah, sehingga meningkatkan kerentanan terhadap kekeringan di berbagai wilayah.

Faisal menegaskan bahwa fenomena kemarau dan El Nino merupakan dua hal yang berbeda. Kemarau merupakan siklus tahunan yang biasa terjadi, sedangkan El Nino merupakan anomali iklim global. Namun, ketika keduanya terjadi secara bersamaan, dampaknya dapat memperburuk kondisi kekeringan akibat penurunan curah hujan yang signifikan.

“Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino adalah dua fenomena berbeda. Kemarau merupakan siklus klimatologis, namun jika terjadi bersamaan dengan El Nino, curah hujan akan jauh berkurang dan kondisi menjadi lebih kering,” kata Faisal dikutip dari Antara, Kamis, 9 April 2026.

- Advertisement -

ENSO sendiri merupakan sistem iklim global yang dipengaruhi oleh perubahan suhu permukaan laut dan tekanan udara di wilayah Samudra Pasifik tropis. Fenomena ini terdiri dari tiga fase utama, yakni El Nino yang ditandai pemanasan suhu laut, La Nina sebagai fase pendinginan, serta fase netral. Perubahan tersebut berdampak luas terhadap pola cuaca dunia, termasuk Indonesia yang cenderung mengalami penurunan curah hujan saat El Nino terjadi.

Sejalan dengan perkembangan tersebut, BMKG mencatat jumlah titik panas (hotspot) di Indonesia hingga awal April 2026 telah mencapai 1.601 titik. Angka ini meningkat dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya dan menjadi indikator awal meningkatnya potensi karhutla.

BMKG memetakan peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan akan mulai terlihat di wilayah Riau pada Juni mendatang. Selanjutnya, potensi tersebut diperkirakan meluas ke Jambi dan Sumatera Selatan, sebelum menjangkau wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan pada periode Juli hingga Agustus.

Sebagai langkah antisipasi, BMKG terus mengintensifkan upaya mitigasi melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), khususnya di kawasan rawan gambut. Upaya ini difokuskan pada pembasahan lahan atau rewetting guna menjaga kelembapan tanah agar tidak mudah terbakar.

“Ketika tinggi muka air tanah di lahan gambut mulai menurun, BMKG segera melakukan modifikasi cuaca untuk menjaga kelembapan tanah agar tidak mudah terbakar,” kata dia.

BMKG juga menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor dalam menghadapi potensi peningkatan risiko karhutla. Pemerintah daerah dan masyarakat diminta meningkatkan kesiapsiagaan, terutama di wilayah yang diprediksi akan mengalami musim kemarau lebih kering dan panjang akibat pengaruh El Nino.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

KLM Batalkan Ratusan Penerbangan Imbas Biaya Avtur

JCCNetwork.id-Maskapai KLM Royal Dutch Airlines mengumumkan pembatalan 160 penerbangan di rute Eropa yang dijadwalkan berlangsung pada Mei 2026. Keputusan tersebut diambil menyusul lonjakan biaya bahan...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER