Aktivitas Meningkat, PVMBG Perketat Radius Bahaya Semeru

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Aktivitas vulkanik Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali menunjukkan peningkatan pada Rabu (11/2/2026). Dalam kurun waktu kurang dari delapan jam, gunung tertinggi di Pulau Jawa itu tercatat mengalami lima kali erupsi dengan tinggi kolom abu mencapai 1.000 meter di atas puncak.

Data Pos Pengamatan Gunung Semeru mencatat letusan pertama terjadi pada pukul 00.38 WIB dengan tinggi kolom abu sekitar 600 meter mengarah ke utara. Aktivitas kemudian berlanjut hingga pagi hari. Erupsi terbesar terjadi pada pukul 05.36 WIB dengan kolom abu teramati setinggi 1.000 meter berwarna putih hingga kelabu, bergerak ke arah timur laut mengikuti arah angin.

- Advertisement -

Rentetan letusan kembali terjadi hingga pukul 08.06 WIB. Pada erupsi kelima tersebut, seismograf mencatat amplitudo maksimum 22 milimeter dengan durasi 125 detik. Secara visual, kolom abu tidak teramati jelas karena tertutup kabut tebal di sekitar puncak.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, mengatakan aktivitas vulkanik masih berlangsung saat laporan disampaikan. Hingga kini, status Gunung Semeru tetap berada pada Level II atau Waspada (Siaga).

“​Saat ini, Gunung Semeru masih bertahan pada Level II atau Siaga. Mengingat risiko yang meningkat, PVMBG mengeluarkan instruksi tegas bagi warga maupun wisatawan,”ujarnya Rabu (11/2/2026)

- Advertisement -

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan sejumlah pembatasan aktivitas di kawasan rawan bencana. Wilayah sektor tenggara, khususnya sepanjang Besuk Kobokan, diminta steril dari seluruh aktivitas manusia dalam radius 13 kilometer dari puncak. Area tersebut berpotensi terdampak aliran awan panas guguran yang dapat meluncur sewaktu-waktu.

Selain itu, masyarakat juga dilarang beraktivitas di sepanjang sempadan sungai dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di alur Besuk Kobokan. Larangan ini diberlakukan mengingat potensi perluasan awan panas yang dapat mencapai jarak hingga 17 kilometer dari puncak.

“Untuk radius rawan lontaran Area dalam radius 5 km dari kawah harus dikosongkan guna menghindari bahaya lontaran batu pijar,” tambahnya.

Untuk kawasan dalam radius 5 kilometer dari kawah, warga dan pendaki diminta tidak melakukan aktivitas apa pun karena berisiko terdampak lontaran batu pijar saat terjadi letusan eksplosif.

Tidak hanya ancaman erupsi, otoritas juga mengingatkan potensi bahaya sekunder berupa awan panas guguran (APG) dan lahar hujan. Risiko tersebut meningkat terutama saat curah hujan tinggi mengguyur kawasan puncak dan lereng gunung.

Pengawasan difokuskan pada sejumlah jalur sungai yang berhulu di puncak Semeru, di antaranya Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, Besuk Sat, serta anak-anak sungai lainnya di sekitar wilayah terdampak. Sungai-sungai tersebut berpotensi menjadi jalur aliran material vulkanik jika terjadi hujan deras.

​”Masyarakat wajib waspada, terutama saat curah hujan tinggi yang dapat memicu aliran lahar di sepanjang lembah sungai,” pungkasnya

PVMBG mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi resmi dari otoritas terkait dan tidak mudah terpengaruh kabar yang belum terverifikasi. Warga yang bermukim di sekitar aliran sungai juga diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama pada musim hujan.

Belum ada laporan korban jiwa maupun kerusakan akibat rangkaian erupsi tersebut. Aparat dan relawan setempat tetap bersiaga untuk mengantisipasi perkembangan aktivitas Gunung Semeru dalam beberapa waktu ke depan.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

KPK Tahan Mantan Menag Yaqut Cholil Qoumas

JCCNetwork.id- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya menahan mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, terkait perkara dugaan korupsi kuota haji. Penahanan dilakukan setelah Yaqut ditetapkan...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER