JCCNetwork. id- Harga minyak mentah global menguat pada awal pekan seiring meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah serta memudarnya optimisme terhadap tercapainya kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina. Situasi tersebut kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi dunia.
Pada perdagangan Senin, minyak mentah Brent naik lebih dari satu dolar atau sekitar 1,7 persen dan diperdagangkan di kisaran USD 61,64 per barel. Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), turut menguat sekitar USD 1,10 atau 1,9 persen ke level USD 57,84 per barel.
Penguatan harga minyak terjadi di tengah meningkatnya tensi di kawasan Timur Tengah, khususnya di Yaman. Pelaku pasar mencermati kemungkinan terganggunya distribusi minyak akibat eskalasi konflik yang kembali memanas.
Selain itu, hubungan Rusia dan Ukraina yang kembali memanas dinilai dapat menghambat proses perundingan damai yang sebelumnya sempat memberi harapan penurunan risiko global.
Analis Gelber & Associates menyebut perhatian pasar kini beralih ke Timur Tengah, di mana ketidakstabilan baru, termasuk serangan udara Arab Saudi di Yaman, meningkatkan kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak.
Koalisi yang dipimpin Arab Saudi menegaskan akan mengambil langkah tegas terhadap setiap aksi militer kelompok separatis selatan di Provinsi Hadramout yang dinilai berpotensi merusak upaya deeskalasi konflik.
Laporan resmi menyebutkan, bentrokan yang terjadi pada Kamis lalu menewaskan dua anggota Hadhrami Elite Forces, sayap bersenjata Dewan Transisi Selatan (STC). Sebagai respons, Arab Saudi melancarkan serangan udara pada Jumat dini hari yang menyasar posisi pasukan STC, sebagaimana dilaporkan Reuters.
Di Eropa Timur, ketegangan kembali meningkat setelah Moskow menuduh Ukraina melancarkan serangan drone ke kediaman Presiden Rusia Vladimir Putin di wilayah utara negara tersebut. Rusia menyatakan insiden itu dapat memengaruhi sikapnya dalam perundingan damai.
Ukraina membantah tuduhan tersebut dan menilai klaim Rusia sebagai alasan untuk membenarkan eskalasi militer lanjutan.
Sebelumnya, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengungkapkan adanya perkembangan positif dalam komunikasi dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Kedua pihak sepakat mengirimkan tim masing-masing untuk bertemu pada pekan depan guna membahas langkah konkret mengakhiri perang. Trump juga disebut telah melakukan pembicaraan via telepon dengan Presiden Vladimir Putin yang dinilai berlangsung konstruktif.
Sebagai catatan, harga minyak sempat tertekan lebih dari dua persen pada perdagangan Jumat lalu, seiring meningkatnya harapan tercapainya kesepakatan damai di Ukraina. Namun, kuatnya impor minyak mentah China melalui jalur laut turut menopang ketatnya pasokan di pasar global.
Analis UBS, Giovanni Staunovo, menilai level USD 60 per barel menjadi titik penopang yang solid bagi minyak Brent. Ia memperkirakan harga berpotensi kembali menguat pada 2026 seiring melambatnya pertumbuhan pasokan dari negara-negara non-OPEC+.
Saat ini, investor menantikan rilis data persediaan minyak Amerika Serikat untuk pekan yang berakhir pada 19 Desember. Survei pasar memperkirakan stok minyak mentah AS akan menurun, sementara persediaan bensin dan distilat diproyeksikan mengalami kenaikan.



