JCCNetwork. id-Harga emas kembali mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Pada perdagangan Jumat (26/12/2025), harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menembus angka Rp2.589.000 per gram. Angka tersebut naik Rp13.000 dibandingkan posisi sehari sebelumnya di level Rp2.576.000 per gram.
Penguatan harga ini memperpanjang tren kenaikan emas yang berlangsung konsisten sepanjang tahun 2025. Lonjakan tersebut dipicu oleh meningkatnya permintaan aset aman di tengah ketidakpastian ekonomi global, tekanan inflasi, serta dinamika geopolitik internasional.
Kondisi ini sekaligus menempatkan emas kembali sebagai instrumen lindung nilai yang paling diburu investor.Data historis menunjukkan emas tetap mencatatkan kinerja positif dalam jangka panjang. Dalam kurun 15 tahun terakhir, harga emas tumbuh rata-rata hampir 10 persen per tahun.
Capaian ini menegaskan posisi emas bukan semata instrumen spekulatif, melainkan aset pelindung nilai yang relatif stabil di tengah fluktuasi ekonomi dan gejolak pasar keuangan.Meski demikian, lonjakan harga emas ke level tertinggi menimbulkan dilema tersendiri bagi investor.
Selisih harga beli dan jual atau spread yang berkisar antara 4 hingga 12 persen, bergantung pada jenis dan gramasi emas, menjadi faktor yang perlu diperhitungkan secara cermat. Kondisi ini membuat emas kurang ideal untuk transaksi jangka pendek.
Di tengah harga yang tinggi, investor kini memiliki beragam opsi kepemilikan emas. Selain emas fisik dalam bentuk batangan, investasi emas digital kian diminati karena fleksibel, dapat dimulai dari nominal kecil, dan tidak memerlukan penyimpanan fisik.
Skema cicilan emas juga menjadi alternatif untuk mengunci harga, meski dengan konsekuensi biaya yang lebih tinggi dibandingkan pembelian tunai.
Pelaku pasar menilai strategi pembelian emas perlu disesuaikan dengan kapasitas keuangan masing-masing. Pembelian dalam gramasi besar dinilai lebih efisien karena memiliki spread lebih rendah.
Sementara bagi investor bermodal terbatas, pembelian bertahap atau penerapan strategi pembelian berkala dinilai mampu menekan risiko membeli di harga puncak.
Kendati emas menawarkan stabilitas, para analis tetap mengingatkan pentingnya diversifikasi portofolio.
Ketergantungan pada satu instrumen dinilai berisiko, terutama saat harga berada di level tinggi. Kombinasi emas dengan instrumen lain seperti saham, obligasi, atau reksa dana dinilai dapat menjaga keseimbangan risiko dan peluang imbal hasil.
Adapun keputusan menjual emas bergantung pada tujuan finansial masing-masing investor. Penjualan umumnya dilakukan ketika target keuntungan tercapai, kebutuhan mendesak muncul, atau saat kondisi ekonomi global mulai stabil.
Dengan karakteristik likuid dan mudah dicairkan, emas tetap menjadi salah satu aset yang paling adaptif dalam menghadapi berbagai siklus ekonomi.



